Dilema Kelas Menengah di Antara Bunga dan Rupiah

Di sisi fiskal, pemerintah perlu berhati-hati dalam memilih jenis belanja. Belanja sosial penting, tetapi jangan hanya menjadi bantalan konsumsi jangka pendek.
Belanja yang paling membantu kelas menengah adalah belanja yang menurunkan biaya hidup dan meningkatkan pendapatan masa depan: sekolah yang baik, rumah sakit yang efisien, transportasi yang mengurangi biaya harian, energi yang stabil, dan infrastruktur yang membuat usaha kecil lebih produktif.
Jika APBN digunakan untuk memperbaiki kualitas hidup dan produktivitas, kelas menengah akan melihat negara hadir bukan sebagai pemberi subsidi sesaat, melainkan sebagai pembuka jalan untuk naik kelas.
Dunia usaha juga punya peran. Perusahaan harus lebih adil dalam membagi beban krisis: tidak semua tekanan kurs dan bunga boleh langsung dipindahkan kepada pekerja dan konsumen. Perbankan perlu lebih kreatif dalam menata restrukturisasi, tenor, dan produk pembiayaan bagi keluarga produktif dan UMKM yang sehat.
Kampus, lembaga pelatihan, dan asosiasi profesi perlu membantu pekerja kelas menengah memperbarui keterampilan, sebab ancaman mereka bukan hanya suku bunga, tetapi juga otomatisasi dan perubahan industri.
Nasib kelas menengah akan menentukan wajah ekonomi Indonesia. Bila mereka melemah, konsumsi turun, pajak melemah, tabungan menipis, dan optimisme sosial terkikis. Bila mereka kuat, ekonomi memiliki penyangga yang luas dan produktif. Maka BI benar-benar menjaga rupiah agar tidak kehilangan jangkar.
Pemerintah juga perlu memastikan kelas menengah tidak kehilangan harapan. Data beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kerentanan itu bukan sekadar perasaan. Reuters pernah mencatat porsi kelas menengah Indonesia turun dari 21,5 persen dari populasi pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024.
Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari separuh PDB dan kelas menengah menyumbang bagian penting dari konsumsi swasta.
Sebab negara yang ingin tumbuh tinggi tidak cukup hanya menjaga pasar tetap tenang. Pemerintah harus memastikan keluarga pekerja percaya bahwa kerja keras masih bisa membawa mereka naik, bukan perlahan-lahan turun kelas. (*)




Komentar