Dilema Kelas Menengah di Antara Bunga dan Rupiah

Inilah paradoks kelas menengah Indonesia. Mereka diminta untuk optimistis, konsumtif, produktif, patuh pajak, adaptif terhadap teknologi, dan tidak bergantung pada negara. Namun, ketika tekanan ekonomi datang, perlindungan terhadap mereka sering kali kabur.
Bantuan sosial lebih fokus pada kelompok miskin, sementara insentif pajak dan pembiayaan lebih sering dinikmati oleh sektor formal yang sudah kuat. Kelas menengah berada di tengah: terlalu “mampu” untuk dibantu, terlalu rentan untuk dibiarkan sendiri.
Bank Dunia sejak lama juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki kelompok calon kelas menengah yang besar, tetapi belum sepenuhnya aman secara ekonomi. Artinya, yang sedang kita bicarakan bukan hanya nasib satu kelompok sosial, melainkan fondasi pertumbuhan nasional.
Ada pandangan bahwa kelas menengah harus lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada perlindungan negara. Pandangan ini ada benarnya. Kelas menengah memang perlu memperkuat literasi keuangan, menghindari utang konsumtif, menyiapkan dana darurat, serta lebih disiplin dalam mengelola risiko.
Tetapi menyalahkan kelas menengah semata adalah cara berpikir yang terlalu mudah. Banyak tekanan yang mereka hadapi berasal dari struktur ekonomi: pekerjaan formal yang tidak tumbuh cukup cepat, biaya pendidikan dan kesehatan yang terus naik, perumahan yang makin mahal, transportasi publik yang belum merata, dan pasar kerja yang makin tidak pasti.
Maka, solusi untuk kelas menengah bukan menolak kenaikan BI Rate. Bila rupiah dibiarkan jatuh terlalu jauh, kelas menengah justru akan membayar harga lebih mahal melalui inflasi, ketidakpastian kerja, dan turunnya kepercayaan.
Solusinya adalah memastikan kebijakan stabilisasi moneter terhubung dengan kebijakan fiskal dan sektoral yang melindungi mobilitas sosial.
Pemerintah perlu memperluas agenda kelas menengah: pekerjaan formal berkualitas, pelatihan ulang tenaga kerja, pendidikan vokasi yang relevan, perumahan terjangkau, transportasi publik yang murah, layanan kesehatan yang andal, serta insentif bagi UMKM yang produktif.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar