(Ketika Kritik Dipermainkan, Demokrasi pun Terabaikan)

Prabowo; Nye-Nye-Nye

Fikram Guraci

Padahal masyarakat membutuhkan pemimpin yang siap secara ideologi maupun politik menerima setiap kritik dan evaluasi yang dilayangkan. Agar kepercayaan publik tidak runtuh ketika pemerintah berbicara tentang kebijakan, kebebasan, dan kesejahteraan.

Sehingga masyarakat akan meyakini bahwa pemerintah kali ini lebih baik dari pemerintah sebelumnya, bila pemerintah mau mengakui kesalahannya. Akan tetapi semua itu hanya sekedar ekspektasi yang nyaris tidak akan pernah terbukti.

Jauh sebelum pemerintahan Prabowo berjalan, Okky Madasari seorang sastrawan sekaligus sosiolog pernah menulis satu opini yang diterbitkan Jawa Post saat Prabowo selesai dilantik dengan judul “Lepas dari Mulut Harimau, Masuk ke Mulut Buaya”.

Okky mendiagnosis bahwa berakhir pemerintahan Jokowi mengantarkan kita pada pemerintahan yang tidak kalah berbahaya “Dengan transisi dari Jokowi ke Prabowo, rakyat Indonesia mungkin merasa seperti keluar dari satu bencana hanya untuk masuk ke dalam yang lain.

Jika sepuluh tahun pemerintahan Jokowi diwarnai dengan janji-janji kosong, pemerintahan Prabowo justru membawa kekhawatiran baru tentang masa depan demokrasi dan hak asasi manusia di Indonesia”.

Dan itu terbukti saat ini, sikap mengolok-olok, membuat kebijakan yang menyimpang, disahkannya RUU TNI Polri hingga memaksakan PSN di atas tanah masyarakat Papua dan itu dianggap lazim bagi pemerintah.

Meski kehidupan masyarakat dipertaruhkan untuk hari esok. Namun bagi pemerintah, tidak ada yang lebih penting dari pertumbuhan ekonomi; meski merusak.

Bisa dilihat dari awal Presiden Prabowo memimpin, sudah banyak menuai beragam reaksi ketika kebijakan demi kebijakan muncul. Baik itu pujian, dukungan hingga aksi protes yang kemudian berkembang. Dan yang didapat dari aksi protes hanyalah represifitas aparat keamanan selama demonstrasi berlangsung.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...