(Ketika Kritik Dipermainkan, Demokrasi pun Terabaikan)
Prabowo; Nye-Nye-Nye

Di tangannya demokrasi layaknya mainan anak-anak yang hanya dipakai ketika lagi gabut. Saat negara mengalami krisis, mulai dari naiknya harga BBM (Bahan Bakar Minyak), nilai kurs rupiah yang makin merosot, MBG, Kopdes, banyak kalangan mengkritik elektabilitasnya dalam mencari jalan keluar yang tepat.
Namun dalam setiap pidatonya, Prabowo selalu menyampaikan ekonomi Indonesia tetap stabil, masyarakat makin sejahtera, petani-petani sudah bisa liburan ke luar negeri.
Padahal fakta di lapangan sangat bertolak belakang dengan apa yang ia sampaikan. Masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dari pemerintah dari berbagai sektor untuk kehidupan layak.
Ia selalu mengabaikan suara-suara bila menuntut perbaikan, apalagi menyinggung program prioritas seperti MBG yang ia agung-agungkan. Contohnya, ketika Wakil BEM UI Fatimah Azzahra, dalam salah satu diskusi dengan jubir partai Gerindra sekaligus Anggota DPR RI, Fatimah menyampaikan ada yang lebih urgen dibanding perut lapar.
Misal akses ke sekolah seperti jembatan, atau jalan yang tidak layak untuk dilewati dan hal-hal itu yang mestinya diperhatikan oleh pemerintah agar anak-anak tidak terkendala saat berangkat ke sekolah mereka.
Akan tetapi saat pernyataan itu sampai ke telinga Prabowo, respon yang didapat hanyalah olok-olokan yang menunjukkan bentuk ketidakpeduliannya terhadap kritik.
Dalam acara puncak Pekan Nasional (Penasaran) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026) Prabowo menyampaikan “tidak ada yang lebih genting dari perut lapar, orang kalau perut lapar kalau enggak segera diisi, ya, dia mati” jawaban yang terkesan acuh tak acuh terhadap kritik.
Sementara di beberapa kesempatan ia mengakui bahwa kritik yang membangun itu perlu, akan tetapi pada kenyataannya tidak sejalan dengan praktiknya. Padahal demokrasi dalam pelaksanaannya tidak hanya membebaskan orang bersuara, tapi juga merealisasi keluhan orang-orang.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar