(Ketika Kritik Dipermainkan, Demokrasi pun Terabaikan)
Prabowo; Nye-Nye-Nye

Namun, ironi ini tidak berhenti begitu saja dalam pidatonya yang terbaru bahkan ia mempersilakan orang-orang untuk mencari negara lain ketika merasa Indonesia suram.
Hal ini menjadi atensi publik terhadap pemerintah di tengah-tengah carut-marutnya keadaan negara, yang sudah seharusnya sebagai pemangku kebijakan menunjukkan perhatian serius merespon ketidakpuasan rakyatnya.
Bukan menampilkan sikap masa bodoh terkait keluhan yang muncul saat negara abai dengan masalah yang mereka ciptakan sendiri. Sikap tersebut seolah-olah tidak ada optimisme pemerintah membawa kemajuan bagi negara.
Karakter Prabowo mengingatkan pada sebuah mitologi Yunani yang sangat relevan untuk saat ini. Ketika Daedalus memperingati putranya Icarus untuk mengetahui batas-batas dirinya “Jangan terbang terlalu rendah karena air laut akan membasahi sayapmu.
Jangan pula terbang terlalu tinggi karena panas matahari akan melelehkan lilin yang merekatkan sayapmu.” Namun naas, Icarus mengabaikan peringatan akibat terpesona dengan kebebasan, keberhasilan dan kesombongan, sehingga ia terbang mendekati matahari dan jatuh hingga tewas.
Mitologi ini dikenal dengan metafora hubris terhadap seseorang yang acuh tak acuh saat orang lain memperingati batas-batas serta kekurangan yang ia miliki.
Begitu juga dengan Prabowo hari ini yang menolak evaluasi, koreksi, atau masukan dari luar pemerintahannya. Saat berbagai lapisan masyarakat mulai dari akademisi, mahasiswa, buruh.
Bahkan konten kreator mengkritik kesiapan serta kualitas program prioritas pemerintah, mereka justru dicap tidak nasionalis, menghambat pembangunan, bahkan antek-antek asing.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar