Etika Bermedia Sosial: Menjaga Ruang Digital yang Aman dan Ramah

Namun, di balik peluang dan berbagai kemudahan tersebut, transformasi digital dan platform digital juga menghadirkan berbagai tantangan dan ancaman baru yang perlu dihadapi secara bijaksana.
Sebagaimana dimuat dalam Jurnal Kolaboratif Sains Vol.1 1 Januari 2026 berjudul The Impact of Digital Technology : Positive and Nagative, ada beberapa tantangan utama transformasi digital antara lain: perundungan ciber atau cyberbulliying (menghina, mengintimidasi, atau mempermalukan seseorang melalui media digital), penipuan daring, ujaran kebencian yang berpotensi memicu konflik sosial dan agama, perjudian online, pelanggaran privasi dengan membagikan data dan foto pribadi orang lain tanpa izin, kecanduan digital serta meningkatnya penyebaran hoaks dan disinformasi.
Media sosial sebagai platform digital berperan besar dalam mempercepat penyebaran hoaks dan disinformasi. Algoritma platform media sosial seperti facebook, twitter dan instagram dirancang untuk memprioritaskan konten yang menarik perhatian, seringkali tanpa mempertimbangkan validitas informasi yang disebarkan.
Dalam konteks ini, berita hoaks yang sensasional cenderung lebih banyak disebarkan dibandingkan dengan informasi yang akurat, karena berita hoaks sering lebih menarik secara emosional.
Aris Sarjito dalam Journal of Governance and Local Politics Vol.6 No.2 tahun 2024, menulis bahwa berita hoaks menyebar 6 kali lebih cepat dari berita yang benar di twitter.
Belakangan ini banyak muncul kasus hoaks yang sangat beragam, mulai dari rekayasa foto dan video menggunakan teknologi AI, fitnah tokoh publik, hingga penipuan berkedok bantuan sosial.
Penyebarannya memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan untuk memicu kepanikan atau menggiring opini publik. Pihak Komdigi melalui kanal resminya setiap saat mengupdate dan mengklarifikasi berita hoaks.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar