Membaca Tragedi Taliabu dari Sudut Pandang Kimia
Ketika Tubuh Manusia Menjadi “Sinyal Kimia” bagi Ular Piton

Oleh: Akram La Kilo
(Guru Besar Kimia pada Program Studi Kimia, Universitas Negeri Gorontalo)
Dua peristiwa tragis yang terjadi di Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Juni 2026 mengundang perhatian masyarakat luas. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, dua warga dilaporkan meninggal dunia akibat serangan ular piton berukuran besar di area perkebunan.
Peristiwa pertama menimpa Elizabeth Yamalau (44), sedangkan peristiwa kedua menimpa Lifas (25) yang dilaporkan diserang saat melintas menggunakan sepeda motor di kawasan perkebunan Air Pala.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 7 Juli 2026
Berita tersebut memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Mengapa ular piton semakin sering muncul di sekitar perkebunan dan pemukiman? Bagaimana ular tersebut dapat menemukan manusia? Bahkan, bagaimana mungkin seekor piton dapat menyerang seseorang yang sedang mengendarai sepeda motor?
Sebagai seorang kimiawan, saya melihat bahwa fenomena ini menarik untuk dipahami bukan hanya dari sudut pandang zoologi atau ekologi, tetapi juga dari perspektif kimia.
Sebab, di balik setiap interaksi antara manusia dan satwa liar, terdapat proses-proses kimia yang berlangsung tanpa henti di tubuh manusia maupun di lingkungan sekitarnya.
Tubuh manusia sesungguhnya adalah sebuah "reaktor kimia" yang sangat kompleks. Setiap detik, miliaran reaksi berlangsung di dalam sel untuk menghasilkan energi yang dibutuhkan tubuh. Salah satu reaksi terpenting adalah respirasi seluler:
C?H??O? + 6O? ? 6CO? + 6H?O + Energi
Melalui reaksi ini, tubuh menghasilkan karbon dioksida, air, dan energi. Sebagian energi digunakan untuk aktivitas tubuh, sementara sebagian lainnya dilepaskan sebagai panas.
Artinya, setiap manusia secara terus-menerus melepaskan karbon dioksida melalui pernapasan, uap air melalui pernapasan dan kulit, serta panas melalui proses metabolisme. Bahkan ketika seseorang sedang beristirahat atau mengendarai sepeda motor, tubuh tetap memancarkan "jejak" kimia dan energi ke lingkungan.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar