Membaca Tragedi Taliabu dari Sudut Pandang Kimia

Ketika Tubuh Manusia Menjadi “Sinyal Kimia” bagi Ular Piton

Akram La Kilo

Selain itu, keringat manusia mengandung berbagai zat seperti ion natrium, ion klorida, kalium, urea, serta senyawa hasil metabolisme lainnya. Semua molekul tersebut menyebar ke lingkungan dan menjadi bagian dari apa yang dapat disebut sebagai "identitas kimia" manusia.

Konsep ini sebenarnya tidak asing dalam kehidupan sehari-hari. Ada sebuah kisah populer yang sering dikaitkan dengan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte.

Menjelang kepulangannya dari perjalanan panjang, Napoleon konon mengirim pesan kepada istrinya, Joséphine, yang berbunyi, "Jangan mandi, aku akan pulang dalam tiga hari."

Terlepas dari perdebatan mengenai keaslian kisah tersebut, cerita itu menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki aroma khas yang terbentuk dari campuran molekul yang dihasilkan tubuh dan mikroorganisme pada kulit. Dalam bahasa sains, tubuh manusia membawa "sidik jari kimia" yang unik.

Jika manusia dapat mengenali seseorang melalui aroma khasnya, maka di alam liar banyak organisme yang jauh lebih sensitif dalam membaca informasi kimia tersebut. Salah satunya adalah ular piton.

Piton memiliki organ khusus yang disebut organ Jacobson atau organ vomeronasal. Dengan menjulurkan lidah bercabangnya, ular mengambil partikel-partikel kimia dari udara dan permukaan tanah, kemudian menganalisisnya melalui organ tersebut.

Kemampuan ini membantu ular memperoleh informasi mengenai kondisi lingkungan dan keberadaan organisme lain di sekitarnya.

Namun demikian, penting untuk dipahami bahwa hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa piton secara khusus memburu manusia berdasarkan karbon dioksida atau bau tubuh manusia sebagaimana nyamuk mencari mangsa.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...