Membaca Tragedi Taliabu dari Sudut Pandang Kimia

Ketika Tubuh Manusia Menjadi “Sinyal Kimia” bagi Ular Piton

Akram La Kilo

Piton menggunakan kombinasi berbagai informasi, mulai dari sinyal kimia, panas tubuh, gerakan, hingga posisi objek di lingkungannya.

Lalu mengapa piton dapat menyerang seorang pengendara motor seperti yang terjadi di Taliabu? Karena tidak ada saksi yang melihat seluruh rangkaian kejadian sejak awal, tidak mungkin menyimpulkan penyebab pastinya.

Namun, ilmu perilaku satwa memberikan beberapa kemungkinan yang masuk akal. Pertama, korban mungkin melintas sangat dekat dengan posisi ular yang sedang bersembunyi atau menunggu mangsa.

Piton dikenal sebagai predator penyergap (ambush predator) yang mampu berkamuflase dengan sangat baik di antara semak dan dedaunan.

Kedua, ular mungkin menerima rangsangan berupa getaran tanah, gerakan, dan panas tubuh dalam jarak yang sangat dekat sehingga memicu respons serangan.

Ketiga, kaki pengendara merupakan bagian tubuh yang paling dekat dengan permukaan tanah dan kemungkinan menjadi bagian pertama yang masuk ke dalam jangkauan serangan ular.

Yang menarik, laporan menyebutkan bahwa setelah menggigit kaki korban, ular langsung melilit tubuhnya. Dalam perilaku piton, kombinasi gigitan dan lilitan lebih sering berkaitan dengan upaya menangkap mangsa dibandingkan sekadar tindakan mempertahankan diri.

Selain faktor perilaku ular, kondisi lingkungan juga berperan penting. Dari perspektif kimia lingkungan, area perkebunan merupakan lokasi yang kaya akan bahan organik.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...