Defisit Atensi: Ancaman Nyata di Balik Layar Gadget Si Kecil

Di sinilah konsep pola asuh digital masuk sebagai penentu utama apakah teknologi akan menjadi alat bantu atau justru menjadi penghambat perkembangan kognitif anak.
Mari kita jujur, di tengah kesibukan zaman sekarang, gadget sering kali menjadi penyelamat atau disebut "pengasuh kedua" Saat anak rewel, gadget diberikan sebagai penenang, saat orang tua sedang sibuk bekerja, gadget jadi alat agar anak diam.
Bahkan saat makan atau menjelang tidur, layar masih setia menemani mereka. Meski secara praktis solusi ini efektif dalam jangka pendek, namun secara jangka panjang anak sedang dirampas kesempatannya untuk belajar satu keterampilan vital yaitu kemampuan untuk mengatur fokus (atensi) secara mandiri.
Penting bagi kita untuk menyadari bahwa kemampuan untuk fokus bukanlah bakat alami. Kemampuan ini perlu dilatih melalui interaksi fisik yang nyata dan sederhana, seperti saat anak tekun menyusun balok kayu,mendengarkan dongeng sebelum tidur, bereksperimen dengan kuas gambar.
Hingga bermain bebas di alam terbuka. Aktivitas ini melatih sistem saraf anak untuk bertahan pada satu tugas, mentoleransi rasa bosan, dan belajar mengontrol dorongan untuk beralih ke hal lain.
Seringkali kita lupa bahwa kunci utamanya ada pada kualitas interaksi orang tua dengan anak saat penggunaan gadget. Penelitian oleh Guellai dkk (2022) menegaskan bahwa proses belajar anak usia dini belajar lebih efektif melalui interaksi sosial dibandingkan belajar secara pasif dengan gadget.
Kehadiran orang tua yang aktif berdialog, menjelaskan, dan merespons anak selama menggunakan gadget dapat mendukung peningkatan fokus (atensi) dan menambah wawasan.
Sedangkan penggunaan gadget tanpa didampingi oleh orang tua berpotensi menghambat perkembangan bahasa, kemampuan fokus (atensi) dan fungsi kognitif lainnya.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar