Defisit Atensi: Ancaman Nyata di Balik Layar Gadget Si Kecil

Bairia Kemhay

Anak-anak dalam waktu beberapa menit saja harus menelan puluhan gambar berwarna dengan gerakan yang cepat, suara yang seru, dan informasi yang berganti-ganti dengan cepat.

Pola tersebut membuat sirkuit otak menjadi terbiasa dengan stimulasi yang begitu serba instan dan cepat, sehingga membuat standar baru di otak anak bahwa dunia harus bergerak secepat layar gadget mereka.

Begitu pula sebaliknya, masalah baru muncul jika anak-anak berhadapan dengan aktivitas dunia nyata yang membutuhkan ketekunan dengan ritme yang lebih lambat, seperti membaca buku, mendengarkan penjelasan guru, atau memecahkan soal matematika yang rumit.

Aktivitas tersebut kurang menyediakan stimulus seperti video singkat di media sosial. Dampaknya, otak mereka merasa aktivitas tersebut sangat hambar dan membosankan, sehingga fokus mereka mudah teralihkan. Keresahan para guru dan orang tua ini pun telah divalidasi oleh penelitian empiris.

Menurut studi longitudinal oleh Gueron-Sela dan Gordon-Hacker (2020), akumulasi paparan media sejak usia dini, termasuk durasi penggunaan Gadget, pemutaran televisi yang terus hidup tanpa ditonton, da kurangnya interaksi anatara orang tua dan anak, dapat berkontribusi pada penurunan kemampuan fokus (atensi) anak pada usia anak berikutnya.

Selain itu, Vedechkina dan Borgonovi (2021) juga menegaskan bahwa meskipun pengaruh teknologi digital tergantung pada konten dan konteks penggunaannya, paparan gadget berlebihan dapat mengganggu kemampuan fokus (atensi) serta kontrol kognitif pada anak yang menjadi fondasi mereka saat belajar.

Namun, kita perlu bersikap adil dan bijak, menuding gadget sebagai satu-satunya penyebab adalah peemahaman yang keliru.

Masalah fokus (atensi) ini sebenarnya jauh lebih kompleks dari pada sekadar frekuensi menggunakan gadget, ini tentang bagaimana teknologi tersebut mengisi ruang kosong dalam tumbuh kembang anak.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...