HUT Halsel dalam Perspektif Hermeneutika

M. Husni Muslim

Karena itu, Saruma mengandung makna persatuan, keterbukaan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Nilai-nilai inilah yang seharusnya terus dihidupkan dalam pembangunan Halsel masa kini.

Momentum HUT Halsel menjadi waktu yang tepat untuk melakukan reinterpretasi terhadap makna Saruma. Hermeneutika berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, sehingga nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu tidak kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman.

Dalam konteks ini, Halsel yang telah berusia 23 tahun semestinya menjadi titik balik untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Daerah dan Kesultanan Bacan.

Keduanya tidak perlu dipertentangkan, melainkan harus dipahami sebagai dua unsur yang saling melengkapi dalam membangun identitas dan masa depan daerah.

Melalui kacamata hermeneutika, Kesultanan Bacan dapat dipahami sebagai “teks hidup” yang terus memberi makna bagi generasi sekarang dan yang akan datang.

Jauh sebelum bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Kesultanan Bacan merupakan entitas politik dan ekonomi yang memiliki posisi penting dalam perdagangan internasional.

Komoditas seperti cengkeh, pala, kopi, dan hasil hutan menjadikan Bacan dikenal luas oleh bangsa-bangsa Eropa. Bahkan Kesultanan Bacan pernah memiliki mata uang sendiri yang dikenal dengan nama Golden Batjan.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...