HUT Halsel dalam Perspektif Hermeneutika

Kesaksian serupa juga datang dari Hi. Akib Iskandar Alam, Jogugu Kesultanan Bacan pada masa Sultan Gahral Sjah. Ia mengisahkan bagaimana Sultan tetap optimistis meskipun dihujani keraguan dan tudingan dari sebagian masyarakat.
Bagi beliau, pemekaran Halsel bukan sekadar agenda politik, melainkan persoalan harga diri dan tanggung jawab terhadap masa depan masyarakatnya.
Drs. Yamin Tawari, M.Si., juga pernah menjelaskan bahwa pemekaran Halsel berlangsung di tengah situasi yang sangat sulit. Saat peluang pemekaran hampir tertutup, berbagai upaya politik dilakukan hingga akhirnya Maluku Utara menjadi daerah pertama yang berhasil melahirkan pemekaran melalui Hak Inisiatif DPR RI.
Karena itu, jasa Sultan Gahral Adyan Sjah tidak mungkin dinafikan. Bahkan DPRD Maluku Utara periode 2004–2009 menetapkannya sebagai Pahlawan Pemekaran. Dalam konteks hermeneutika, sejarah perjuangan ini harus terus dihadirkan sebagai bagian dari kesadaran kolektif masyarakat.
Nama beliau tidak cukup hanya disebut dalam pidato-pidato seremonial, tetapi juga harus dikenang melalui doa, penghormatan, dan terutama dengan meneladani semangat pengabdiannya dalam membangun Halsel dan Maluku Utara.
Kedua: Menafsirkan Ulang Makna Saruma
Selain sejarah pemekaran, Halsel juga identik dengan semboyan *Saruma*. Secara hermeneutik, Saruma bukan sekadar slogan daerah, melainkan sebuah pandangan hidup yang lahir dari rahim sejarah Kesultanan Bacan.
Selama berabad-abad, Kesultanan Bacan telah menjadi rumah besar bagi berbagai kelompok etnis, agama, dan budaya.
Baca Halaman Selanjutnya..



Komentar