Ratu yang Bersujud

Visi serta misi yang dirancang sebagai bahan jualan politik pada rakyatnya terlupakan, dua OPD yang menjadi jantung nadi kehidupan masyarakat yakni Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan oleh sang Ratu setelah melakukan evaluasi dan percermatan terhadap kinerja mereka menjadi catatan merah yang harus dievaluasi.
Itu pun hanya tuturan lipservise serta kamunflase kata dan paradoks kepemimpinan sang “Ratu” semuanya itu memunculkan pertanyaan besar di akhir tulisan ini apakah “sang ratu” dengan otoritas yang dimilikinya bersujud kepada rakyatnya ataukah bersujud pada origarki, bersujud pada kelompoknya, bersujud pada identitas etnisnya.
Dengan realitas distribusi alokasi sumber daya tahun 2026 dimonopoli oleh satu kelompok kecil yang menguasai ratusan meliaran so sang ratu bersujud pada dua arah kiblat.
Teman-teman bercerita tentang hebatnya piato Sang ratu saat berpidato basah oleh linangan air mata, ia bicara rakyat miskin sambal menggenggam kerak pejabat, di atas mimbar ia seperti darah yang menangisi nasib kampong namun dibalik semua itu ada lingkaran bisnis yang duduk dikursi belakang.
Kebijakannya kerap berkedok berpihak pada warga di permukaan, tapi mengamankan tambang dan logistic di akar, harapan menamainya ‘ratu yang renda hati karena ia sujud atas nama kasih dan keadilan tapi skeptik berbisik sujudnya hanya topeng.
Kepentingan oligarki adalah sajadah yang sesyngguhnya, ia berbicara perlawanan atas nama kesejahteraan, tapi gerbong investasi tetap melaju tanpa hambatan, ia menangis membca data kemiskinan namun ia diam saat konsesi tanah digerogoti. (*)


Komentar