Ratu yang Bersujud

Tapi juga memberi paradigma baru tentang Islam yang sesungguhnya dan bagaimana Islam mengangkat derajat dan martabat, serta kebebasan kepada kaum wanita.
Membaca novel “Ratu Yang Bersujud” memotret sebuah gerakan Perempuan menuntut kesetaraan Gender terutama rebutan-rebutan kuasa yang di dominasi kaum lelaki.
Dengan lakon utamanya perempuan bernama Charlotte, dengan teman-temannya membentuk gerakan dengan mengutamakan isyu perempuan, perempuan harus dipandang setara dengan kaum laki-laki dalam ruang publik, dan inspirasi perjuangan charlotte di dapatkan dalam inti ajaran Islam, bahwa Islam mengangkat harkat dan martabat kaum perempuan.
Gambaran cerita novel “Ratu yang Bersujud” dalam lanskap demokrasi Provinsi Maluku Utara telah membuka tabir kebuntuan sejarah rebutan tahtah yang di dominasi oleh kaum laki-laki, demokrasi membuka ruang kompetitif yang setara antara warga, tidak memandang keperempuanan dan kelaki-lakian dalam relasi biologis.
Kemenangan dia “Ratu” seorang perempuan berdarah chines sebagai Gubernur Maluku Utara pada Pilkada tahun 2024, mematahkan sejarah politik kekuasaan yang didominasi kaum laki-laki.
Dalam perjalanan tahtah kekuasaannya sebagai ratu selama kurun waktu hampir dua tahun, memperlihatkan kemampuannya merekayasa ke-Ratuan-nya begitu tren, anggun dan mempesona, lagi sangat cantik jika dilihat dalam layar kamera, omongan dan tuturannya begitu indah nan menarik.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar