Ratu yang Bersujud

Andaikan harga kecantikan sang ratu dialokasikan untuk beasiswa doctoral puluhan orang akan menyelesaikan studi doktoralnya, harga layar kaca sang ratu dalam tampilan berbagai media baik nasional maupun media lokal, medsos, tiktok, youtube dan lain sebagainya, memberi jawaban betapa dahsyatnya pemborosan itu.
Sang ratu terus memberikan wacana program-program reaktif muncul atau dimunculkan berdasarkan keinginan sang ratu bukan kebutuhan rakyatnya yang telah di bahas, direncanakan dan di eksekusi kebijakannya.
Sang ratu suka menggiring wacana, wacana, dan wacana mulai dari sofifi menjadi daerah otonomi baru, keberangkatan haji 2025 menggunakan sistem blok seat bukan carteran pesawat yang menuai polemik publik husus ummat Islam.
Kemudian sang wakil ratu memasang badannya menganulir wacana yang telah bergulir bahwa jama’ah haji berangkat ternate-makassar menggunakan carteran pesawat.
Dalam catatan tahun 2025 serapan APBD hampir mengalami titik nadir resapan anggaran melemah, karena terjadi efesiensi yang berulang-ulang sampai 5 kali pembahasan efesiensi ditengah apbd yang telah berjalan, telah dibahas bersama DPRD.
Tindakan efesiensi berjalan satu arah berdasarakan keinginan sang ratu, opd tidak berani mengeksekusi program-programnya, opd pelayan-pelayan sang ratu takluk tak berkutik.
Wacana program membingungkan berulang lagi dengan pendidikan jarak jauh anak putus sekolah di tingkat smp, sekolah kedinasan dan masih banyak lagi sang Ratu memunculkan program-program “tiba akal tiba saat” disinilah meminjam bahasanya sang kritikus Moktar Adam sofifi metropolitan janji politik yang terlupakan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar