Krisis Ruang Aman bagi Perempuan di Malut

Antara Diam dan Takut

Darti Duwila

Ketika perempuan mengambil peran dalam urusan mencari nafkah, laki-laki merasa terhina dengan itu, lalu apa yang harus di lakukan perempuan? Diam dan tunduk kepada laki-laki? Takut yang seharusnya untuk tuhan, diambil alih oleh laki-laki.

Nyatanya ruang publik sekarang belum sepenuhnya ramah bagi perempuan, jalanan yang ramai tidak menjamin keamanan perempuan, justru keramaian menjadi kesempatan bagi pelaku untuk melancarkan aksi bejatnya, malam maupun siang, sunyi maupun ramai tidak ada bedanya.

Kampus yang harusnya menjadi wadah pengembangan diri dan pembentukan karakter justru gagal dalam penerapan teori dan praktiknya, diskriminasi tumbuh di dalam kampus dan mengakar di lingkungan masyarakat.

Pelecehan seksual paling rentang di lakukan oleh oknum-oknum yang memiliki kuasa sehingga mereka dapat memegang kendali atas sistem dan kebijakan.

Di tempat kerja peluang untuk melakukan pelecehan itu dari atasan ke karyawan, agar tidak kehilangan pekerjaan, mengambil sikap diam di anggap yang paling aman.

Menurut data dinas pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (DP3A) kota ternate per april 2026: jumlah kasus di awal tahun 2026 saja, tercatat sudah ada 10 kasus kekerasan terhadap perempuan (dengan 13 korban) dan 8 korban pada kasus anak.

Dengan data yang dipaparkan di atas diketahui bahwa kasus kekerasan seksual suda rajin terjadi bahkan baru memasuki awal tahun.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...