Krisis Ruang Aman bagi Perempuan di Malut
Antara Diam dan Takut

Dari peristiwa-peristiwa itu kesehatan mental korban sanggat di prihatinkan, secara psikologi korban menderita trauma, depresi, dan gangguan mental, sedangkan pelaku masi bebas berkeliaran tanpa rasa bersalah.
Sistem budaya yang di bangun sejak dahulu juga menjadikan perempuan selalu berada dalam di lemah, saat mengahadapi situasi yang seperti ini tidak ada pilihan lain selain diam, karna takut di salahkan, takut di pandang buruk oleh orang-orang terdekat terutama keluarga, teman dan pasangan.
Rasa jijik terhadap dirinya yang membuat ia merasa orang-orang sekitar juga menganggap dirinya kotor karna di sentuh atau di gauli oleh orang asing.
Diam adalah bentuk keterpaksaan ketika korban berada dalam tekanan sosial dan budaya, sistem pun bahkan tidak berpihak pada korban.
Ada kasus-kasus serupa ketika di laporkan ke pihak kepolisian yang di pertanyakan pertama kali adalah perempuannya, sering kali di anggap perempuan yang mengundang mala petaka, perempuan yang mengundang hawa nafsu laki-laki, salahnya perempuan itu kenapa terlahir menjadi perempuan.
Menjadi perempuan bukan sekedar menjadi putri dari kedua orang tua, bukan sekedar menjadi istri dari suami, bukan sekedar menjadi ibu dari anak-anaknya, beban yang ditangung perempuan mulai dari dalam rumah hingga keluar dan masuk dalam lingkungan sosial.
Ia tidak pernah di akui di rumah, pekerjan mencuci, memasak dan megurus anak diangap pekerjaan yang sepele oleh laki-laki.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar