Pendidikan Gratis dan Problem Pendidikan
Suara Guru Honorer dari Timur Indonesia

Namun pendidikan gartis saja tidak cukup untuk dibanggakan. Terbukanya akses pendidikan formil yang notabene syarat pengetahuan umum, tetapi tidak memperhatikan aspek karakter atau adab peserta didik, ini juga menjadi masalah laten.
Anak-anak hanya dibuka akses untuk sekedar tau tanpa memiliki adab dan akhlak, disini akan menjadi masalah baru degradasi moral generasi yang akan datang.
Maka dalam konteks ini pendidikan karakter atau pendidikan adab juga harus terintegrasi dengan baik melalui format pendidikan yang baik.
Meminjam ungkapan Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani (rahmatun alaihi) "Al-adabu Fauqal Ilmi" artinya "adab itu lebih tinggi daripada ilmu", bukan mengangungkan adab, tetapi adab adalah pintu masuk ilmu, dan menjadi karakter seorang yang berilmu, terkristal dalam filosofi padi, semakin berisi semakin menunduk.
Disinilah sekolah-sokolah pemerintah harus belajar pada pendidikan pesantren yang menekankan Al-adabul Alim. Bukan berarti pesantrenisasi.
Namun soal adab terbukti pendidikan pesantren punya format yang jelas dan terukur, misalnya pesantren NU disana ada rujukan Al-Adabul Alim wal Mu'ta alim Hadratussya K.H Hasyim Ashari yang mengambil intisari Adab dari tokoh pendidikan seperti Imam Al-Ghazali, Imam Syafi'i dan beberapa ulama tradisional lainnya.
Artinya pendidikan adab harus dibangun dengan pendekatan religius-transendental baik dalam perspektis Islam atau ajaran spritual lainnya tanpa menghilangkan aspek pengetahuan umum/sains yang bersifat Profan-keduniaan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar