Pendidikan Gratis dan Problem Pendidikan

Suara Guru Honorer dari Timur Indonesia

Fardal Rasudin, S.Pd

Kalu benar begitu, jelas ini ironi, makan-makan lebih diutamakan daripada mutu dan kualitas pendidikan, sudah begitu tidak sesuai prosedur anggaran.

Supaya tidak tanggung-tanggung, gimana kalu guru Honerer diangkat saja jadi ASN melalui seleksi yang akurat? Dengan begitu dapat menimalisir kekurangan guru dan kelayakan kebijakan terhadap guru, atau pemilik SPPG yng di gaji tiap hari 6 juta itu dipotong 5% untuk biaya tambahan guru Honerer?.

Tapi kan kenyataannya Negara tidak mau anggaran besar keluar hanya untuk biayaain kerja keras guru, prioritasnya-kan makan bergizi Gratis yng sebenarnya bukan habis untuk siswa-siswi tapi lebih besar di nikmati oleh bukan siswa.

Jadi ya guru Honerer harus menghadapi tekanan regulasi alias dipaksa berhenti?, Dengan begitu anggaran MBG semakin besar di tahun 2027?, Ini masalahnya !

Dan lebih ironis ketika kita menyaksikan anggaran pendidikan miliaran bahkan triliunan rupiah dipakai pada hal-hal yang tidak subtantif seperti beli Motor untuk MBG, Anggaran kaos kaki MBG saja tembus 6 triliunan, pemilik SPPG di gaji 1 Hari 6 juta setara dengan 3 bulan gaji Guru Honerer.

Disamping itu ketika kritik dan perberbedaan pendapat di sampaikan, presiden malah ngeyel yang tidak-tidak, menuduh antek asing, dan mencap menjatuhkan, atau anti pemerintah. Jujur saja menyaksikan ini, itu rasanya kita seperti berada di Negri yang tidak waras.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6 7

Komentar

Loading...