Maluku Utara: Gerbang Ekonomi atau Sekadar Pasar?

Ekonomi Konsumsi yang Disamarkan sebagai Peluang
Angka triliunan rupiah sering dikutip sebagai bukti peluang. Pasar ayam, telur, dan pangan disebut besar. Namun angka itu sebenarnya adalah nilai konsumsi.
Artinya, uang masuk untuk dibelanjakan lalu keluar mengikuti arus barang. Maluku Utara tidak sedang menciptakan nilai dalam skala yang cukup. Ia menjadi tempat persinggahan nilai.
Ketika kondisi ini disebut sebagai peluang tanpa perbaikan produksi, arah pembangunan bergeser. Distribusi diperkuat, produksi tertinggal, dan ketergantungan menjadi kebiasaan.
Hilirisasi yang Gagal Menjadi Arah
Hilirisasi sering disebut, tetapi jarang dipaksa menjadi kenyataan. Perikanan masih didominasi penangkapan tanpa pengolahan yang kuat.
Kelapa memang sudah mulai diolah, tetapi kapasitasnya masih terbatas dan belum mampu menahan sebagian besar nilai tambah di dalam daerah. Lompatan ke industri pengolahan yang lebih luas belum benar-benar terjadi.
Pola ini berulang: sumber daya diambil dari sini, diolah di tempat lain, lalu kembali sebagai produk dengan harga lebih tinggi. Ini bukan sekadar masalah teknis.
Ini terjadi karena keputusan untuk membangun industri tidak pernah benar-benar diprioritaskan. Tanpa dorongan kebijakan yang tegas, ekonomi akan berhenti di tahap awal dan tidak pernah naik ke pengolahan.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar