Segregasi Sosial, “Ngoni Punya, Torang Punya,” Tambang, dan Konflik

Di atas semua itu, nilai-nilai lokal seperti basudara—yang menekankan persaudaraan dan solidaritas—harus direvitalisasi sebagai fondasi kehidupan bersama.
Epilog
“Ngoni Punya, Torang Punya” adalah cermin dari realitas sosial yang terfragmentasi. Ia mengingatkan bahwa konflik tidak pernah benar-benar selesai jika akar-akar sosialnya belum disentuh.
Peristiwa di Halmahera Tengah, yang dipicu oleh teror OTK dan diperparah oleh kesalahpahaman serta tekanan ekonomi ekstraktif, menunjukkan bahwa perdamaian sejati bukan sekadar ketiadaan kekerasan.
Ia mensyaratkan keadilan, inklusivitas, dan keberanian untuk membongkar sekat-sekat sosial yang telah lama mengendap.
Tanpa upaya serius ke arah itu, sejarah bukan tidak mungkin akan terulang—dalam bentuk yang berbeda, tetapi dengan luka yang sama. (*)




Komentar