Segregasi Sosial, “Ngoni Punya, Torang Punya,” Tambang, dan Konflik

Pasca konflik 1999–2000, segregasi tidak hanya terjadi dalam bentuk pemisahan wilayah tempat tinggal berdasarkan identitas agama, tetapi juga merembes ke dalam berbagai aspek kehidupan: pasar, sekolah, jaringan kerja, hingga relasi politik.
Interaksi sosial menjadi terbatas dalam lingkar kelompok masing-masing, memperkuat logika kepemilikan sosial yang eksklusif.
Memori Kolektif dan Trauma yang Berulang
Warisan konflik meninggalkan trauma mendalam yang tidak berhenti pada generasi yang mengalaminya secara langsung. Ia diwariskan melalui cerita keluarga, narasi komunitas, hingga percakapan sehari-hari.
Memori kolektif ini kemudian berfungsi sebagai semacam social script yang membentuk cara pandang terhadap “yang lain”.
Dalam banyak kasus, persepsi ancaman tidak selalu lahir dari realitas objektif, tetapi dari ingatan kolektif yang terus direproduksi. Akibatnya, relasi sosial menjadi rapuh dan mudah terprovokasi oleh isu-isu sensitif, terutama yang bernuansa SARA.
Teror OTK, Kesalahpahaman, dan Konflik di Halmahera Tengah
Ketegangan yang terjadi belakangan di Halmahera Tengah menunjukkan bahwa residu konflik masa lalu masih sangat hidup.
Konflik ini bermula dari insiden teror orang tak dikenal (OTK) di kawasan Hutan Patani, yang kemudian berkembang menjadi keresahan sosial akibat simpang siurnya informasi.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar