Segregasi Sosial, “Ngoni Punya, Torang Punya,” Tambang, dan Konflik

Tiklas Pileser Babua

Dalam situasi masyarakat yang masih menyimpan memori konflik, peristiwa tersebut dengan cepat ditafsirkan melalui kacamata identitas.

Narasi yang berkembang—terutama di media sosial—memperkuat dikotomi “ngoni” versus “torang”. Kesalahpahaman pun tak terhindarkan, hingga memicu ketegangan horizontal.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana satu kejadian yang belum tentu memiliki motif komunal dapat berubah menjadi konflik sosial akibat minimnya verifikasi informasi dan kuatnya prasangka historis.

Ekstraktivisme dan Dimensi Konflik Baru

Namun, membaca konflik di Halmahera Tengah hanya dari perspektif identitas tidaklah cukup. Ada dimensi lain yang tak kalah penting, yakni kehadiran industri ekstraktif—khususnya tambang nikel—yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat di wilayah ini.

Ekstraktivisme sering kali membawa konsekuensi sosial yang kompleks: perubahan struktur ekonomi, ketimpangan distribusi sumber daya, hingga kontestasi ruang hidup masyarakat.

Dalam situasi ini, konflik tidak selalu muncul sebagai konflik ekonomi secara langsung, melainkan sering bertransformasi menjadi konflik identitas.

Teror OTK di Hutan Patani dapat dilihat sebagai pemicu awal yang membuka kembali retakan sosial lama. Ketika masyarakat berada dalam kondisi segregatif, ditambah tekanan ekonomi dan perubahan sosial akibat industri tambang, maka potensi konflik menjadi semakin besar.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...