Tambang Nikel Pemicu Paradoks Pertumbuhan Ekonomi

Selain itu, hasil penelitian Nexus3 Foundation dan Universitas Tadulako tahun 2024 menemukan paparan merkuri dan arsenik dalam darah warga Gemaf dan Lelilef, dengan 23 dari 61 sampel melebihi ambang batas aman.
Bahkan sembilan orang terpapar dua logam berat sekaligus (Asia Daily, 2025). Pencemaran air juga menjadi potret paling nyata dari krisis lingkungan akibat ekspansi tambang nikel.
Laporan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Maluku Utara (2026) mengungkapkan bahwa di sejumlah wilayah terdampak, terutama Desa Kawasi di Pulau Obi, aktivitas pertambangan dan pengolahan nikel yang dijalankan oleh PT Harita Group diduga kuat berkontribusi terhadap penurunan kualitas sumber air warga.
Sumber air warga mulai dari sumur, sungai, hingga laut mengalami penurunan kualitas. Air yang selama ini menjadi kebutuhan dasar masyarakat untuk kebutuhan minum, memasak, dan mencari ikan berubah menjadi keruh berwarna kecoklatan.
Tidak hanya kehilangan kejernihan, air tersebut juga mengalami perubahan rasa dan diduga kuat dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan pada warga. Kondisi ini menandai rusaknya sistem ekologis perairan yang selama ini menopang keberlangsungan hidup masyarakat.
Kerusakan lingkungan tidak berhenti pada pencemaran air, tetapi juga merambah wilayah daratan melalui penggundulan hutan.
Citra satelit dan penelitian oleh Climate Rights International serta Universitas California, Berkeley, menunjukkan bahwa lebih dari 5.300 hektar hutan telah hilang akibat penambangan di Halmahera.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar