Tambang Nikel Pemicu Paradoks Pertumbuhan Ekonomi

Dr. Iswadi M. Ahmad

Dengan kata lain, semakin tinggi pertumbuhan ekonomi yang bersifat eksploitatif, semakin besar pula tingkat kerusakan lingkungan yang harus ditanggung masyarakat.

Realitas inilah yang terlihat di Provinsi Maluku Utara. Tambang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, namun juga menyebabkan kerusakan lingkungan.

Ekspansi tambang nikel, khususnya di sekitar kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), telah memicu krisis kesehatan masyarakat.

Laporan Asia Daily (2025) mengungkap lonjakan tajam kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah sekitar tambang dan smelter nikel.

Data Puskesmas Lelilef menunjukkan kasus ISPA meningkat dari 351 kasus pada 2018 menjadi lebih dari 2.700 kasus pada 2024, sementara di Lelilef Sawai melonjak dari 434 kasus pada 2020 menjadi lebih dari 10.000 kasus pada 2023.

Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan terhadap paparan debu dan emisi industri. Gangguan kesehatan masyarakat lingkar tambang juga dipicu berbagai polusi.

Pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar batubara menjadi sumber utama pelepasan partikel halus (PM10 dan PM2.5), serta gas berbahaya seperti sulfur dioksida (SO2) dan nitrogen oksida (NOx) yang diketahui dapat merusak paru-paru dan meningkatkan risiko penyakit jantung bagi masyarakat.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5 6

Komentar

Loading...