Mata yang Tertutup di Lelilef

Lalu kita, seolah berada pada suasana dimana debu dan panas saling beradu. Kita dan (anda) duduk di sana “menjadi juri”, mengamati, tertawa, kemudian pelan- pelan menunggu giliran untuk dijubahi, lalu berkali-kali ditonjok oleh debu.
Debu akhirnya, seakan menyelimuti kampung mungil ini, siang dan malam. Lalu debu, menjadi teman memasak, menjadi teman menyeruput kopi. Akhirnya partikel demikian sukses tertawa di samping kita. Dia Hidup berdampingan, tapi juga acapkali menyerang.
Debu yang terbang di sini, kini telah menjadi biasa, tapi tak bisa dilawan, tak bisa dihentikan. Seakan berada dibawah tekanan dan arahan manusia. Debu, hanya bisa dihentikan oleh Tuhan yang maha faham; oleh air hujan, titik.
Debu, bisa saja hilang, dengan setetes air saja dari/dan oleh mereka yang punya kuasa. Dan, bisa saja tetap di sini, karena dibiarkan oleh mereka, yang punya kuasa. Debu, sedang menunggu tangan dan hati yang benar-benar bertanggung-jawab mengembalikannya kepada alam, kepada kehidupan.
Di Lelilef hari ini, orang-orang berdatangan mencari kerja, membawa cita dan nasib, hanya untuk masa depan yang tenang dan bahagia. Namun bukan di Lelilef. Mungkin maksudnya ketenangan hanya ada di kampung mereka, setelah hasil jerih payah diperoleh di Lelilef.
Mereka, ialah kebanyakan kariawan dan pedagang, yang mengupayakan mendukung tempat dimana mereka mencari hidup, juga menghirup debu, namun bukan tak mungkin, keluhan terkait debu untuk mereka menjadi cerita, menjadi kenangan buruk tersendiri.
Baca Halaman Selanjutnya..
Komentar