Habitus Seorang Direktur

M. Nofrizal Amir

Oleh: M. Nofrizal Amir
(Akademisi FISIP UMMU)

“Dalam kosakata Yunani, ketelatenan disebut epimelei. Itu bukan sekadar dedikasi, melainkan ketekunan yang dirawat hingga mengendap menjadi esensi. Di Maluku Utara, epimeleia tak lagi memerlukan definisi, sebab ia sudah punya nama: Rosita.”

Ambon, 25 Juli 1984. Seorang bayi perempuan lahir di kota yang pantainya tak pernah luput dari jejak kehidupan. Tak ada yang tahu, bahwa kelak ia akan hafal letak pulau-pulau lebih baik daripada kebanyakan pelaut.

Baca di: Koran digital Malut Post edisi Kamis, 5 November 2026

Ia belajar mengeja di sebuah sekolah dasar di Hative Kecil, Ambon. Lalu angin membawanya ke utara, ke Ternate, kota yang tumbuh di antara gunung yang tegak di jantungnya dan laut yang membentang di sekelilingnya.

Di SMP Negeri 4 dan SMA Negeri 1, ia menjadi remaja yang barangkali sering memandang kapal-kapal bersandar di pelabuhan, dan tak sempat menebak, bahwa pada suatu hari ia sendiri yang akan menumpang kapal-kapal itu, membawa dokumen kerja dan daftar tilik, menyusuri pulau demi pulau.

Makassar menerimanya pada 2001. Di sana, di Universitas Muslim Indonesia, ia belajar bahwa tubuh manusia adalah manuskrip purba, sedang dokter adalah hermeneutikusnya.

Lima tahun kuliah, tiga tahun profesi. Ia pulang membawa gelar dan sebuah pertanyaan yang tak tercantum di ijazah mana pun: bagaimana caranya agar sebuah pelayanan tetap baik ketika tak ada yang sedang memeriksa? Ini jelas, epistemologi pelayanan.

Pengabdiannya sebagai dokter bermula di timur Halmahera, di Puskesmas Nusajaya dan Lolobata. Di sana, dokter adalah pintu pertama sekaligus pintu terakhir, dan ia belajar bahwa sakit tidak pernah membuat janji.

Sambil bekerja, ia menimba ilmu manajemen kesehatan di Malang, sebab ia mulai curiga bahwa menyembuhkan satu orang dan menata seribu orang adalah dua kerja yang tidak boleh berjarak.

Setelah itu RSUD Chasan Boesoirie, kemudian Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara. Dari staf, menjadi kepala seksi, lalu kepala bidang. Dua belas tahun ia menyusuri lorong-lorong birokrasi yang oleh orang lain dianggap kering, dan ia menemukan bahwa di balik setiap angka ada seseorang yang pernah menunggu.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...