Habitus Seorang Direktur

Telaten, dan Panggung di Dek Kapal
Ada kata Yunani, epimeleia, yang berarti perhatian yang tekun, kepedulian yang dirawat dari hari ke hari. Dalam bahasa sehari-hari kita menyebutnya telaten. Jika harus merumuskan sosok ini dalam satu kata, saya memilih kata itu. Ia telaten pada angka, telaten pada pulau, telaten pada orang-orang yang jarang tersorot kamera.
Dan barangkali di sinilah letak kekuatannya: ia tidak menunggu panggung, sebab panggungnya adalah ruang pemeriksaan, aula pelatihan, dan dek kapal yang bergoyang.
Rumah sakit besar kini ada di tangannya, dan orang akan bertanya apa yang akan ia ubah. Saya menduga jawabannya sudah tertulis dalam perjalanannya selama ini: ia akan memastikan bahwa mutu hadir lebih dulu di dalam kebiasaan, dan bahwa keselamatan pasien menjadi nada dasar yang terdengar di setiap lorong, setiap pergantian shift, setiap catatan kecil di rekam medis.
Ambon melahirkannya, Ternate membesarkannya, Makassar mengasahnya, dan Maluku Utara terus memanggilnya. Kini ia berdiri di sebuah rumah sakit yang pernah ia kenal sebagai pegawai muda.
Mungkin ia sesekali menatap ke arah pelabuhan, tempat kapal-kapal masih bersandar, dan teringat bahwa ia masih punya dua puluh persen perjalanan lagi. Pulau-pulau itu menunggu, dan ia, dengan telatennya, akan datang. (*)


Komentar