Habitus Seorang Direktur

Pada 2026, ia kembali ke rumah sakit tempat ia pernah bekerja. Mula-mula ia dipercaya sebagai Wakil Direktur Pelayanan, sekaligus Pelaksana Tugas Direktur.
Kini, kepercayaan itu berlanjut dengan pelantikannya sebagai Direktur definitif RSUD dr. H. Chasan Boesoirie Lingkarannya seolah menemukan ujungnya, dan ia tampaknya tidak sedang merayakannya. Ia sedang bekerja.
Seratus Lima Puluh Titik di Peta Kepulauan
Mutu. Kata ini kerap hadir di dinding ruang tunggu kantor, dalam spanduk, dalam sambutan. Kita mengangguk, lalu lupa. Namun bagi dr. Rosita Alkatiri, mutu adalah sesuatu yang harus dihidupkan.
Ia ditanam seperti kebiasaan baik di dalam diri orang-orang yang bekerja, dan ia baru berhasil ketika tak perlu lagi diingatkan. Bourdieu menyebut hal semacam ini dengan nama habitus, yakni kebajikan yang telah menjadi napas. Perawat yang mencuci tangan tanpa menunggu atasan lewat sedang menghidupkan mutu.
Petugas yang mencatat risiko dengan jujur sedang menghidupkan mutu. Pasien yang pulang dengan selamat, dan tak pernah tahu betapa panjang rantai kerja yang menjaganya, adalah bukti paling teras dari mutu yang berhasil.
Sejak 2016, ia berkeliling sebagai pendamping akreditasi Puskesmas, setelah mengikuti pelatihan pelatih dari Kementerian Kesehatan di Jakarta. Setahun kemudian ia menjadi surveior. Penugasannya membawanya ke Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan banyak kabupaten lain.
Sejak 2023 ia juga mengemban amanah sebagai Sekretaris LASKESI Maluku Utara. Setiap perjalanan menambah satu keyakinan: akreditasi adalah cara sebuah fasilitas belajar memandang dirinya sendiri, dan predikat hanyalah catatan dari proses itu.
Sejumlah Puskesmas yang ia dampingi kemudian meraih predikat Paripurna. Mereka yang bekerja di dalamnya tahu, bahwa predikat itu lahir dari berbulan-bulan kerja yang tak tampak.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar