Habitus Seorang Direktur

Jangan buru-buru memberi tepuk tangan pada plakatnya. Plakat itu hanya ampas dari sesuatu yang lebih penting, yakni kebiasaan. Ada kalimat yang sering dinisbatkan kepada Aristoteles, bahwa kita adalah apa yang berulang kali kita kerjakan, sehingga keunggulan bukan sebuah tindakan, melainkan kebiasaan.
Mutu pelayanan persis begitu. Ia tidak lahir pada hari penilaian. Ia lahir pada Selasa pagi yang biasa, ketika perawat mencuci tangan tanpa ada yang melihat.
Lalu ada cita-citanya, yang menurut saya paling puitis dari seluruh perjalanannya: mengunjungi seratus lima puluh Puskesmas di Maluku Utara. Dari Morotai di ujung utara sampai Taliabu di ujung selatan. Bayangkan sebuah peta kepulauan, dan seseorang yang menandai titik demi titik dengan kakinya sendiri.
Delapan puluh persen telah ia tempuh. Angka itu bisa dibaca sebagai capaian, tetapi saya lebih suka membacanya sebagai bentuk keyakinan, bahwa tak ada pulau yang terlalu jauh untuk layak dikunjungi, dan tak ada Puskesmas yang terlalu kecil untuk layak dibina.
Keyakinan itu tampak pula dalam penelitian-penelitiannya. Ia pernah menghitung pengadaan bahan makanan kering di instalasi gizi rumah sakit, urusan yang tampak remeh, padahal piring pasien dimulai dari sana.
Ia pernah menelusuri niat masyarakat Maluku Utara menjalankan protokol kesehatan di masa pandemi, sebuah upaya memahami manusia sebelum meminta mereka patuh.
Ia juga ikut merintis aksi menurunkan HIV/AIDS di Halmahera Tengah, kerja yang menuntut kelembutan sekaligus keteguhan. Dari ketiganya, saya menangkap satu cara pandang: pelayanan yang baik dimulai dari kemauan mengerti.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar