Api Telah Padam, Racun Belum Tentu Hilang: Menakar Potensi Bioremediasi Tanah TPA Ternate

Oleh: Lintal Muna
(Mahasiswa Program Doktor Biologi Universitas Gadjah Mada)
Kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru di Kelurahan Takome, Kota Ternate, pada awal Oktober 2026 menjadi peringatan serius tentang kerentanan lingkungan perkotaan. Kepulan asap dan kekhawatiran masyarakat terhadap kesehatan merupakan dampak yang paling mudah dikenali.
Namun, di balik persoalan kualitas udara, terdapat ancaman ekologis lain yang berpotensi bertahan lebih lama, yakni perubahan kualitas tanah akibat residu pembakaran sampah.
Api yang tidak lagi terlihat bukan jaminan bahwa proses pembakaran telah berhenti sepenuhnya. Bahkan setelah seluruh titik panas berhasil ditangani, persoalan lingkungan belum tentu berakhir. Abu, arang, dan material sisa pembakaran dapat membawa senyawa pencemar yang berpindah melalui tanah, air lindi, maupun aliran permukaan.
Dalam perspektif biologi, ancaman tersebut tidak hanya menyangkut keberadaan bahan kimia berbahaya, tetapi juga terganggunya kehidupan mikroorganisme, siklus unsur hara, dan fungsi ekologis tanah.
Karena itu, penanganan kebakaran TPA tidak semestinya berhenti pada pemadaman. Ternate membutuhkan agenda pemulihan lingkungan yang bertumpu pada kajian ekotoksikologi, mikrobiologi tanah, dan bioremediasi berbasis bukti ilmiah.
Tanah Bukan Sekadar Tempat Menumpuk Sampah
Tanah merupakan ekosistem hidup yang dihuni bakteri, fungi, protozoa, dan berbagai organisme lainnya. Komunitas biologis tersebut menjalankan fungsi penting dalam dekomposisi bahan organik, mineralisasi nutrien, pembentukan struktur tanah, dan pengaturan siklus karbon serta nitrogen.
Paparan panas dan kontaminan dapat mengubah keseimbangan komunitas tersebut. Mikroorganisme tertentu mungkin mengalami penurunan populasi, sementara kelompok lain yang lebih toleran dapat bertahan atau berkembang.
Pressler dan Kolega (2019), melalui meta-analisis terhadap 131 penelitian, menunjukkan bahwa kebakaran secara umum dapat menurunkan biomassa, kelimpahan, dan keanekaragaman organisme tanah.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar