Api Telah Padam, Racun Belum Tentu Hilang: Menakar Potensi Bioremediasi Tanah TPA Ternate

Langkah kedua ialah menyusun peta kesehatan biologis tanah. Indikator yang dapat digunakan mencakup biomassa mikroba, respirasi tanah, aktivitas enzim, keragaman mikroorganisme, serta parameter fisikokimia yang berkaitan dengan kesuburan dan toksisitas.
Langkah ketiga adalah mengembangkan penelitian bioremediasi skala laboratorium menggunakan mikroorganisme dan tumbuhan lokal yang telah diseleksi. Hasil pengujian kemudian menjadi dasar penentuan kelayakan proyek percontohan pada lokasi yang aman.
Langkah keempat ialah menerapkan pemantauan jangka panjang. Keberhasilan pemulihan tidak cukup dinilai dari tumbuhnya vegetasi, tetapi perlu dibuktikan melalui penurunan risiko kontaminan, perbaikan aktivitas biologis tanah, dan meningkatnya fungsi ekosistem.
Seluruh agenda tersebut harus berjalan beriringan dengan pembenahan pengelolaan sampah. Pemilahan sejak sumber, pengomposan terkontrol, pengendalian gas, pengelolaan lindi, dan pencegahan kebakaran berulang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pemulihan ekologis.
Memadamkan Api Saja Tidak Cukup
Kebakaran TPA Buku Deru-Deru memberikan pelajaran penting bahwa persoalan lingkungan tidak selalu berakhir ketika dampak yang terlihat berhasil diatasi. Asap mungkin menghilang dari langit Ternate, tetapi kondisi biologis tanah dan potensi pencemaran yang tertinggal masih memerlukan pembuktian ilmiah.
Di sinilah Pemerintah Kota Ternate dituntut melangkah lebih jauh. Pemadaman kebakaran perlu dilanjutkan dengan audit ekologis, pemantauan kualitas tanah dan air, penelitian bioremediasi, serta pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.
Perguruan tinggi memiliki kapasitas keilmuan untuk mendukung agenda tersebut melalui penelitian mikrobiologi, ekotoksikologi, dan fisiologi tumbuhan. Namun, hasil penelitian hanya akan memberikan manfaat nyata apabila pemerintah mampu menerjemahkannya menjadi kebijakan lingkungan yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan.
Pemerintah Kota Ternate tidak cukup hanya memastikan bahwa api di TPA telah padam. Pemerintah juga perlu memastikan, melalui bukti ilmiah, bahwa tanah dan lingkungan di sekitarnya aman bagi kehidupan.
Sudah saatnya Ternate bergerak dari pendekatan penanganan bencana yang bersifat reaktif menuju tata kelola lingkungan yang preventif, berbasis ilmu pengetahuan, dan berorientasi pada pemulihan ekosistem.
Sebab, memadamkan api adalah tindakan penyelamatan. Namun, memulihkan tanah, menjaga kesehatan ekosistem, dan mencegah pencemaran berulang merupakan tanggung jawab pembangunan yang berkelanjutan.(*)


Komentar