Api Telah Padam, Racun Belum Tentu Hilang: Menakar Potensi Bioremediasi Tanah TPA Ternate

Barreiro dan Díaz-Raviña (2021) juga menjelaskan bahwa dampak kebakaran terhadap mikroorganisme sangat dipengaruhi tingkat keparahan, sifat tanah, kondisi lingkungan, dan waktu pemulihan.
Meskipun kajian tersebut terutama membahas kebakaran vegetasi, temuan biologisnya memberikan landasan untuk memahami kemungkinan gangguan akibat paparan panas. Kebakaran TPA bahkan memerlukan perhatian tersendiri karena material yang terbakar merupakan campuran sampah dengan komposisi kimia beragam.
Pertanyaan pentingnya bukan sekadar apakah tanah berubah warna setelah kebakaran, melainkan apakah organisme di dalamnya masih mampu menjalankan fungsi ekologis secara normal.
Ancaman Ekotoksikologi di Balik Residu Pembakaran
Pembakaran sampah yang tidak sempurna berpotensi menghasilkan hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Sejumlah senyawa dalam kelompok ini memiliki sifat persisten, toksik, bahkan karsinogenik.
Residu pembakaran sampah campuran juga berpotensi mengandung logam seperti timbal, kadmium, dan kromium, bergantung pada jenis material yang terbakar. Kontaminan tersebut dapat berinteraksi dengan mineral tanah, bahan organik, serta organisme yang hidup di dalamnya.
Kajian mengenai kebakaran TPA dalam jurnal Environmental Geotechnics (2024) menegaskan bahwa pembakaran sampah dapat menimbulkan risiko ekotoksikologi terhadap lingkungan sekitar.
Sementara itu, kajian Liu dan kolega (2026) menunjukkan bahwa pencemaran gabungan PAH dan logam memerlukan pendekatan remediasi yang mempertimbangkan interaksi antarkontaminan.
Namun, penting untuk membedakan potensi bahaya dengan pencemaran yang telah terbukti. Hingga tersedia hasil pengujian laboratorium yang representatif, belum dapat disimpulkan bahwa tanah di sekitar TPA Buku Deru-Deru mengandung PAH atau logam pada konsentrasi berbahaya.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar