Mengenang Aba Acim, Sang Arsitek Weda

IMG 20260815 WA0034

Oleh: Halim Muhammad

(Sebuah catatan di atas pesawat Sriwijaya Air SJ-699 Ternate–Makassar)

Jumat malam, 14 Agustus 2026, pukul 23.18 WIT, sebuah pesan WhatsApp datang dari Makassar. Kabar duka.

Saya refleks menelepon balik. Ada harapan kecil bahwa kabar itu keliru. Bahwa seseorang akan mengangkat telepon dan mengatakan semuanya baik-baik saja. Akan tetapi, kenyataan, seperti kematian, tidak pernah bisa ditawar.

Ir. H. M. Al Yasin Ali, M.M.T. telah berpulang.

Seorang putra terbaik Fagogoru. Seorang teknokrat. Birokrat. Pemimpin. Bapak. Dan bagi banyak orang, seorang sahabat, tokoh terpenting yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk Halmahera Tengah dan Maluku Utara.

Beberapa menit kemudian, pesan-pesan duka memenuhi grup WhatsApp. Saya membacanya dengan hati yang berat. Malam itu, saya merasa bukan hanya seorang pejabat yang pergi.

Ada seorang bapak yang kehilangan suaranya. Ada seorang pembimbing yang tak lagi bisa ditanya. Ada seorang pemimpin yang tak lagi dapat ditemui. Dan ada seorang sahabat yang tiba-tiba menjadi kenangan.

Ada pemimpin yang kita ingat karena jabatannya. Ada yang dikenang karena keputusan-keputusannya. Namun, ada pula pemimpin yang meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada masa jabatannya: sebuah cara hidup, sebuah teladan, dan kenangan tentang bagaimana ia memperlakukan manusia.

Al Yasin Ali, bagi saya, adalah sosok yang demikian.

Lahir di Weda, Halmahera Tengah, 25 Mei 1958, ia tumbuh dalam kesederhanaan. Semangat untuk menuntut ilmu membawanya meninggalkan tanah kelahiran menuju Ambon untuk menempuh pendidikan di Sekolah Teknik Negeri (STN) 1 Ambon. Perjalanan pendidikan itu kemudian berlanjut ke Kota Makassar hingga ia memperdalam ilmu teknik sipil.

Ilmu itulah yang kemudian menjadi bekal panjang dalam perjalanan pengabdiannya. Pada tahun 1990, ia memulai pengabdian di lingkungan birokrasi melalui Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Halmahera Tengah. Dari sana, perjalanan kariernya terus berkembang. Ia dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis, mulai dari Kepala Seksi di Dinas PU, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, hingga memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Halmahera Tengah.

Di sanalah naluri seorang perencana dan teknokrat ditempa. Ia memahami bahwa pembangunan bukan sekadar membangun jalan, gedung, atau pusat pemerintahan. Pembangunan adalah tentang membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik.

Dan ketika kesempatan untuk mengabdi dalam ruang politik datang, ia membawa cara berpikir seorang teknokrat ke dalam kepemimpinan politik. Masyarakat Halmahera Tengah kemudian mempercayainya sebagai Bupati selama dua periode, 2007–2017. Namun, bagi saya, salah satu bagian terpenting dari perjalanan kepemimpinannya adalah keberaniannya melihat Weda bukan sebagaimana adanya saat itu, tetapi sebagaimana Weda seharusnya menjadi di masa depan.

Ketika terpilih sebagai Bupati pada Pilkada 2007, ia meminta agar prosesi pelantikannya dilaksanakan di Kota Weda. Keputusan itu sederhana jika dilihat dari hari ini. Tetapi pada masa itu, keputusan tersebut membutuhkan keberanian. Weda masih jauh dari gambaran sebuah ibu kota kabupaten yang ideal. Fasilitas dan infrastrukturnya masih sangat terbatas. Namun justru di situlah visi seorang pemimpin diuji.

Ia tidak menunggu Weda menjadi maju untuk kemudian datang dan membangun. Ia datang untuk membangun Weda agar menjadi maju. Di tengah keterbatasan anggaran dan berbagai tantangan, satu demi satu fondasi pembangunan diletakkan. Aktivitas pemerintahan dipindahkan dari Soa Sio ke Weda. Pusat pemerintahan dibangun. Infrastruktur ditata. Konektivitas wilayah diperkuat. Ruang-ruang publik mulai dibangun.

Batu demi batu. Langkah demi langkah. Tidak semuanya sempurna. Tidak semuanya mudah. Tetapi sebuah kota tidak pernah lahir dalam satu malam. Ia lahir dari keberanian untuk memulai dan dalam konteks itulah saya melihat Al Yasin Ali sebagai seorang arsitek pembangunan. Namun, jika hanya pembangunan fisik yang kita ingat dari seorang Al Yasin Ali, rasanya kita belum mengenal beliau secara utuh.

Sebab seorang pemimpin pada akhirnya tidak hanya dinilai dari apa yang ia bangun, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia yang berjalan bersamanya. Kesaksian orang-orang yang pernah bekerja bersamanya menggambarkan sosok yang bersahaja, mengayomi, terbuka untuk berdialog, dan tidak membangun sekat antara pemimpin dengan bawahannya, beliau bahkan dikenang bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai bapak, orang tua, dan pembimbing. Lalu nama Abah Acim mulai dilekatkan kepada sosok Al Yasin Ali.

Itulah barangkali warisan yang tidak terlihat, tetapi justru paling sulit ditinggalkan oleh seorang pemimpin. Jabatan akan berakhir. Gedung akan berubah. Jalan akan diperlebar. Kantor pemerintahan suatu saat akan direnovasi. Tetapi cara seorang pemimpin memperlakukan manusia akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.

Bagi orang-orang yang pernah dekat dengannya, Al Yasin Ali bukan sekadar pejabat. Ia adalah sosok yang membuat orang merasa dihargai. Ia mampu menunjukkan bahwa wibawa tidak harus dibangun dengan jarak. Ketegasan tidak harus melahirkan ketakutan. Dan jabatan tidak seharusnya membuat seseorang lupa bagaimana menjadi manusia.

Pengabdiannya kemudian melangkah ke panggung yang lebih luas. Ia dipercaya mendampingi Abdul Gani Kasuba sebagai Wakil Gubernur Maluku Utara periode 2019–2024. Dari Halmahera Tengah ke tingkat provinsi, tanggung jawab yang diembannya semakin besar. Dinamika pemerintahan tentu tidak selalu sederhana. Ada perbedaan pandangan, ada tekanan, ada persoalan birokrasi, dan ada keputusan-keputusan yang tidak mudah.

Namun dalam perjalanan itu, ia tetap hadir sebagai seorang birokrat senior dan teknokrat yang memahami bagaimana roda pemerintahan harus dijaga agar tetap berjalan.Bahkan ketika dipercaya mengemban amanah sebagai Pelaksana Tugas Gubernur Maluku Utara, ia berada pada sebuah posisi yang membutuhkan ketenangan, keberanian, dan rasa tanggung jawab yang besar.

Kini, semua amanah itu telah selesai. Semua jabatan telah ditinggalkan. Yang tersisa adalah jejak. Kematian memang membuat seseorang berhenti berjalan.Tetapi tidak selalu membuat seseorang benar-benar pergi.  Ada manusia yang tubuhnya pergi, tetapi gagasannya tetap hidup, tidak lagi berada di ruang rapat, tetapi keputusan-keputusannya masih dirasakan,  tidak lagi dapat kita temui, tetapi nasihatnya masih terdengar dalam ingatan. Dan ada seorang arsitek yang telah pergi, tetapi bangunan gagasannya masih berdiri.

Bagi masyarakat Halmahera Tengah, Weda bukan sekadar sebuah tempat. Weda adalah bagian dari sejarah perjalanan pembangunan yang pernah diperjuangkan dengan keberanian dan keyakinan. Bagi Maluku Utara, Al Yasin Ali adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah daerah yang terus mencari bentuk terbaiknya.

Dan bagi orang-orang yang pernah mengenalnya secara dekat, mungkin warisan terbesarnya justru bukan gedung, jalan, atau jabatan. Melainkan keteladanan. Sebab seperti ungkapan yang begitu tepat untuk menggambarkan sosoknya: seorang pemimpin yang baik bukan hanya meninggalkan program, tetapi meninggalkan manusia-manusia yang pernah ia bimbing dan yang kemudian mampu meneruskan kebaikan itu.

Malam itu, ketika kabar kepergianmu datang, saya kembali teringat pada perjalanan panjang yang telah engkau lalui. Dari Weda -Ke Ambon - Ke Makassar, kemudian kembali mengabdi di tanah kelahiran. Dari seorang teknokrat menjadi birokrat, menjadi Bupati, menjadi Wakil Gubernur. Dan pada akhirnya menjadi bagian dari sejarah Maluku Utara.

Kini Abah Acim telah pergi. Raga boleh beristirahat, tetapi karya, gagasan, pengabdian, dan kebaikan tidak akan ikut dikuburkan. Masyarakat Fagogoru dan seluruh masyarakat Maluku Utara tentu kehilangan. Kami kehilangan seorang putra daerah,  pemimpin, guru, bapak.

Namun, di tengah kesedihan itu, kami juga patut bersyukur karena pernah hidup dalam zaman yang sama dengan seorang Al Yasin Ali dan pernah menyaksikan sebagian perjalanan pengabdiannya.

Selamat jalan, Aba Acim

Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilaf dan salahmu, melapangkan tempat peristirahatanmu, serta menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu.

Selamat jalan, Ir. H. M. Al Yasin Ali, M.M.T.

Komentar

Loading...