Ketika Birokrat Tertinggi Membidik Kursi Kekuasaan

Menakar Etika di Ruang Publik

Fadlum Marsaoly

Oleh: Fadlum Marsaoly
(Pemerhati Sosial Politik)

Kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Indonesia kerap kali diwarnai oleh munculnya figur-figur dari latar belakang birokrasi. Di antara sekian banyak posisi, majunya seorang Sekretaris Daerah (Sekda) sebagai calon bupati, wali kota, atau gubernur selalu menarik perhatian, sekaligus mengundang kritikan tajam.

Sebagai pemegang jabatan struktural tertinggi Aparatur Sipil Negara (ASN) di tingkat daerah, langkah politik seorang Sekda bukan sekadar hak politik warga negara biasa. Ia adalah sebuah anomali yang menguji batas-batas etika kekuasaan, netralitas birokrasi, dan keadilan dalam berkompetisi.

Secara konstitusional, tidak ada yang salah. Setiap warga negara, termasuk birokrat, memiliki hak pilih dan dipilih (right to be candidate). Namun, ketika hak tersebut berkelindan dengan jabatan publik yang memegang kendali atas anggaran, kebijakan, dan ribuan personel ASN, ruang demokrasi kita seketika menjadi rentan terhadap distorsi.

Dalam struktur pemerintahan daerah di Indonesia, posisi Sekretaris Daerah merupakan posisi yang unik sekaligus rentan. Sebagai pejabat birokrasi karier tertinggi di tingkat daerah (baik provinsi maupun kabupaten/kota), Sekda memegang kendali penuh atas jalannya roda administrasi pemerintahan.

Namun, posisinya berada tepat di episentrum kekuasaan yang berbatasan langsung dengan jabatan politik (political appointee), yaitu Kepala Daerah (Gubernur, Bupati, atau Wali Kota).

Keunikan posisi ini sering kali memaksa seorang Sekda untuk tidak hanya menjadi seorang administrator yang kaku, melainkan juga seorang "peselancar" yang mahir menunggangi ombak politik.

Ketika seorang Sekda mulai mengambil langkah-langkah strategis di luar tugas administratif konvensionalnya, atau yang sering disebut sebagai manuver publik dan pengamat politik kerap bertanya-tanya: Apakah manuver tersebut demi efektivitas birokrasi, ataukah sebuah batu loncatan menuju panggung politik elektoral?

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4

Komentar

Loading...