Dialektika Pradigma Manusia dari Postmoderen ke POS-TRUTD

Oleh: Sulfan Kiye
(Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unkhair)
Menurut Ayatollah Ali Khamenei dalam bukunya perang kebudayaan, saat ini kita sedang berada dimedan perang kebudayan. Perang yang tidak mengunakan senjata, tetapi ide dan gaya hidup.
Ini adalah bentuk baru kolonialisme disebut “new colonialism” yang tidak menaklukan secara fisik, melainkan secara mental dan kultural. Kolonialisme hari ini menyusup lewat media, tenologi, gaya hidup, dan bahkan pendidikan.
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Selasa, 10 Maret 2026
Tujuannya jelas mereduksi identitas local dan menggantikanya dengan cara pandang yang menjauhkan manusia dari akar budaya dan nilai hidupnya.
Idward W Said, dalam karyanya Orientalisem, menunjukan bagaimana dunia barat secara sistematis membentuk prespsi tentang dunia timur [termasuk Indonesia] sebagian yang lainya yang terbelakang dan perluh diselamatkan.
Melalui cara pandang inilah, budaya local sering kali dianggap enfirior. Antonio Gramsci menamai dengan istilah hegemoni budaya, yaitu kekuasan yang bekerja secara halus memalalui nilai, norma, dan cara berfikir bukan melalui kekerasan.
Dalam konteks Maluku Utara hegemoni ini sangat nyata. Budaya asing mengalir deras melalui televisi, media social, internet, dan polah pendidikan yang menjau dari konteks local.
Ironisnya, kaum terpelajar seharusnya menjadi penjaga nilai dan penghubungan antara pengetahuan modern dan kearifan local. Justru sering kali terjebak dalam menalar gading akademik.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar