Sampah dan Penjilat

Oleh: Risal Sadoki
(pewarta)
Ketika kecil, para orang tua selalu menasihati anak-anaknya agar membuang sampah pada tempatnya. Mengapa hal ini penting? Sederhananya, karena kebiasaan tersebut dapat memupuk kesadaran.
Kesadaran akan kebersihan, keteraturan, dan tanggung jawab terhadap ruang bersama. Begitu pula dengan penjilat. Sejarah penjilatan selalu mewarnai kehidupan kita.
Ia tumbuh dan berkembang melalui puji-pujian, hidup bersemayam dalam relasi kuasa yang kuat, serta menjelma di ruang publik bak pahlawan yang belum mendapatkan panggung.
Fenomena penjilat, jika ditinjau dari teori interaksionisme simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead dan Erving Goffman, dapat dianalisis sebagai proses interaksi sosial yang menekankan makna simbolik, peran sosial, dan manajemen impresi.
Interaksionisme simbolik memandang bahwa individu berperilaku berdasarkan makna simbolik yang mereka berikan pada situasi, tindakan, dan interaksi.
Dalam konteks kekinian, penjilat menggunakan simbol-simbol tertentu—seperti bahasa tubuh yang tunduk, kata-kata pujian, atau perilaku patuh—sebagai bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk membangun citra positif di hadapan pihak yang berkuasa.
Dalam kesehariannya, seorang penjilat akan menyapa atasan dengan gelar kehormatan tertentu, menggunakan panggilan istimewa, atau memberikan penghormatan kecil sebagai simbol penghargaan.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar