Dari Membaca Teks ke Membaca Diri

Oleh: Irfan efendi
(MPBI, Universitas Muhammadiyah Malang)
Di ruang-ruang kelas, pembelajaran Bahasa Indonesia kerap berjalan rapi dan terukur. Siswa membaca teks, menjawab pertanyaan, lalu menunggu penilaian. Semua tampak tertib.
Namun, di balik keteraturan itu, ada satu hal yang sering luput: apakah siswa benar-benar mengalami proses memaknai, atau sekadar menyelesaikan tugas?
Baca di: Koran digital Malut Post edisi Rabu, 28 Januari 2026
Tidak sedikit siswa yang mampu menjelaskan tema cerpen atau gagasan utama artikel, tetapi kebingungan ketika diminta mengaitkannya dengan pengalaman hidupnya sendiri.
Mereka memahami teks, tetapi tidak terbiasa berdialog dengannya. Bahasa Indonesia pun perlahan kehilangan daya hidupnya, berubah menjadi mata pelajaran prosedural, bukan ruang pemaknaan.
Padahal, Bahasa Indonesia memiliki potensi yang jauh lebih besar. Ia bukan sekadar alat uji kompetensi, melainkan medium manusia memahami dirinya dan dunia.
Terlebih bagi remaja, yang sedang berada pada fase pencarian jati diri, kegelisahan eksistensial, dan kebingungan menentukan arah hidup. Ironisnya, mata pelajaran yang paling dekat dengan kehidupan justru jarang digunakan untuk membicarakan kehidupan itu sendiri.
Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara praktik pembelajaran Bahasa Indonesia dan kebutuhan psikologis peserta didik.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar