Potret Remaja yang Hilang: Di Balik Gaun Putih di Desa Doko

Oleh: Tantri Atmojo
(Mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (Psikologi))
Desa Doko, Kecamatan Kasiruta Barat, Halmahera Selatan, Maluku Utara dikenal luas sebagai salah satu penghasil batu bacan, batu akik berharga yang sempat mencuri perhatian nasional.
Namun di balik citra tentang kekayaan alam itu, ada realitas getir yang sering tak terlihat atau sengaja diabaikan. Pernikahan dini. Dalam lima tahun terakhir, praktik ini semakin marak di desa saya.
Baca Juga: Bimbingan Konseling Keluarga: Pilar Pemulihan Mental Anak Pasca Perceraian
Sebagai warga yang lahir dan tumbuh di Doko, keresahan ini bukan datang dari laporan atau berita, tapi dari apa yang saya saksikan sendiri.
Saya melihat anak-anak usia belasan tahun dipakaikan pakaian pengantin, duduk berdampingan di pelaminan, disambut senyum tamu undangan dan lantunan musik pesta. Tapi di balik senyum dan seremonial itu, ada jiwa-jiwa yang dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Banyak dari mereka belum genap berusia 17 tahun, masih bersekolah atau bahkan telah putus sekolah. Pernikahan bukan dipilih, tapi dijalani karena terdesak: oleh kehamilan di luar nikah, oleh tekanan adat, oleh rasa takut orang tua akan "aib".
Baca Juga: Koran Digital Malut Post
Pernikahan dini di desa kami jarang sekali tercatat dalam sistem negara. Mereka dilakukan secara adat atau agama, tanpa akta, tanpa perlindungan hukum, tanpa pertimbangan kesiapan psikologis.
Akibatnya, anak-anak ini tidak hanya kehilangan hak pendidikan, tapi juga masa tumbuh-kembang yang seharusnya mereka nikmati bersama teman sebaya.
Baca Halaman Selanjutnya..




Komentar