Potret Remaja yang Hilang: Di Balik Gaun Putih di Desa Doko

Sebagai warga Desa Doko, saya tidak menulis ini untuk menyalahkan siapa pun. Tapi saya ingin mengajak semua pihak orang tua, tokoh adat, guru, aparat desa, hingga pemerintah daerah untuk berhenti memaklumi pernikahan dini. Kita perlu menantangnya, secara bijak dan berbasis budaya.
Kita perlu membuka ruang dialog, bukan hanya dengan remaja, tapi juga dengan komunitas adat dan keagamaan, agar memahami bahwa melindungi anak bukan berarti mencemarkan nama baik keluarga, justru sebaliknya.
Sudah waktunya negara hadir lebih dekat, tidak hanya dengan aturan, tetapi dengan tindakan nyata. Edukasi seksual dan kesehatan reproduksi harus menjadi bagian dari kehidupan sekolah dan masyarakat.
Pendampingan psikologis harus menjangkau desa-desa terpencil seperti Doko. Akses terhadap layanan kesehatan, konseling, dan perlindungan hukum harus dipastikan hadir dan dapat dijangkau.
Pernikahan dini bukan masalah "budaya" semata, melainkan soal keadilan, kesehatan mental, dan hak anak untuk tumbuh dengan utuh.
Dan bagi saya, sebagai bagian dari desa ini, membicarakan luka ini adalah bentuk kepedulian agar tidak terus menjadi luka yang diwariskan. (*)


Komentar