Potret Remaja yang Hilang: Di Balik Gaun Putih di Desa Doko

Lebih dari itu, mereka terjebak dalam peran-peran orang dewasa yang tidak mereka pahami. Menjadi istri, menjadi suami, menjadi orang tua, tanpa pengalaman atau bimbingan.
Mereka menghadapi konflik rumah tangga, tekanan mental, bahkan kekerasan dalam rumah tangga tanpa akses pada pendampingan yang layak. Beberapa teman sebaya saya telah mengalami itu dan sebagian memilih bungkam karena merasa "itu sudah nasib".
Baca Juga: Peran Pendidikan dalam Mencegah Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan dan Anak di Maluku Utara
Berbagai penelitian memperkuat keresahan ini. Triadhari dkk, (2023) mencatat bahwa pernikahan usia dini berkorelasi kuat dengan gangguan psikologis seperti kecemasan, stres, dan depresi.
Azizah dkk, (2024) menambahkan bahwa konflik, kekerasan, dan perceraian di usia muda sering kali terjadi karena pasangan belum cukup matang secara emosi maupun sosial.
Dari sisi kesehatan, perempuan yang menikah dan hamil di usia remaja rentan mengalami komplikasi serius, mulai dari preeklamsia hingga kematian ibu dan bayi (Vika T.Z., 2022).
Sayangnya, semua ini kerap dianggap biasa. Bahkan sebagian orang tua di desa menganggap pernikahan anak sebagai pencapaian: "daripada hamil di luar nikah," atau "daripada jadi beban orang tua."
Cara berpikir ini mungkin lahir dari ketidaktahuan, mungkin juga dari ketakutan, tapi hasilnya sama, anak-anak yang kita paksa menjadi dewasa, tanpa bekal dan perlindungan.
Baca Halaman Selanjutnya..


Komentar