“Refleksi Hari Tani Nasional”
Negara dan Kriminalisasi Petani

Demikianlah negara, apa yang ada di tubuhnya hanyalah modal dan keuntungan. Yang menjadi ancaman bagi kepentinganya harus dikriminalisasi, dan apa yang bisa menjadi sumber keuntunganya harus direbut dengan paksa, baik melalui undang-undang maupun kekerasan.
Lihat bukunya Ian Angus dengan judul Perampasan Ekologi; Privatisasi Tanah Komunal dan Perlawanan di Era Pembentukan Kapitalisme, menjelaskan bahwa tanah yang dahulu dikelola secara bersama kini harus diprivatisasi oleh segelintir pihak menjadi komoditas.
Privatisasi sumber daya alam, perampasan tanah, dan degradasi lingkungan memiliki akar sejarah yang tertanam dalam pembentukan kapitalisme.
Dalam buku ini menunjukan bagaimana kapitalisme sejak awal dibangun melalui kekerasan, pengusiran, dan penghancuran cara hidup komunal yang lebih berkalanjutan secara sosial maupun ekologis.
Adalah benar, bahwa negara di bawah sistem kapitalisme adalah momok yang tiba bukan untuk memanusiakan, tapi memusnahkan. Kapitalisme hadir dan memprivatisasi tanah kolektif milik rakyat, merampasnya untuk sekadar keuntungan modal, yang melawan akan dibungkam, bahkan ditangkap dan dipenjara.
Dan inilah yang hari ini terjadi di atas Ibu Pertiwi, negara terus memaksa rakyat untuk tunduk pada kepentingan modal, dan menyuruh rakyat dengan kedok membuka lapangan pekerjaan untuk kemudian dieksploitasi tenaganya, sedang upah yang diterima tak sebanding dengan jam kerjanya. Beginilah negara dan kapitalisme bekerja untuk menindas dan menghisap umat manusia.
Sentralisasi aparat TNI di berbagai wilayah menjadi pemicu utama terjadinya konflik agraria, kekerasan dan kriminalisasi yang secara beruntun diterima oleh petani merupakan tangan besi yang mesti segera diputus.
Tanah dan pangan adalah rel kehidupan rakyat, negara harus memberikan kedaulatan penuh atas tanah dan segala ruang hidup ke tangan rakyat. Konflik agraria juga harus dihentikan, rezim hari ini tak boleh merebut apapun yang menjadi ruang penghidupan petani.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar