Bendi Ternate: Punahnya Moda Transportasi Klasik Kota Rempah

Artinya, menyelamatkan bendi Ternate tidak cukup dengan memarkirkannya di museum kota, tetapi dengan menjaga agar bendi tetap hidup dan berfungsi di jalanan, sebagaimana yang dilakukan Wina, New York, maupun Jaipur.
Bagi Ternate yang tengah membangun narasi dirinya sebagai kota rempah bersejarah, hilangnya bendi adalah kehilangan salah satu penanda otentisitas kota yang sulit tergantikan.
Widodo (2012:91) mengingatkan bahwa kota-kota pesisir bekas jalur rempah di Nusantara memiliki keunikan lanskap budaya yang terbentuk dari akumulasi berbagai lapisan sejarah dan setiap lapisan yang hilang, termasuk moda transportasi tradisionalnya, turut mengikis kekhasan kota tersebut di mata dunia.
Karena itu, sudah saatnya pemerintah Kota Ternate, bersama akademisi, komunitas pariwisata, dan para kusir bendi yang tersisa, merumuskan langkah nyata: menetapkan rute-rute khusus bendi di kawasan wisata sejarah kota.
Memberi insentif bagi regenerasi kusir muda, mengintegrasikan bendi ke dalam paket wisata heritage Ternate, menetapkan standar kesejahteraan kuda sebagaimana dipraktikkan New York dan Wina, serta mendokumentasikan sejarah bendi sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal.
Tanpa langkah konkret, bendi Ternate hanya akan tinggal cerita yang dikisahkan generasi tua kepada cucu-cucunya, sebuah kepingan sejarah kota rempah yang lenyap ditelan zaman, sementara kota-kota lain di dunia justru menjadikan kereta kuda mereka sebagai kebanggaan yang terus lestari.(*)

Komentar