Bendi Ternate: Punahnya Moda Transportasi Klasik Kota Rempah

Yogyakarta: Contoh Terdekat Pelestarian Bendi di Ternate
Yogyakarta adalah cermin Terdekat bagi Ternate. Namun perbandingan yang paling relevan dan realistis bagi Ternate barangkali bukan datang dari benua lain, melainkan dari kota sendiri di Indonesia: Yogyakarta.
Andong, delman khas Yogyakarta yang secara historis maupun fungsi setara dengan bendi Ternate, berhasil bertahan hingga kini justru karena diintegrasikan secara sadar ke dalam kawasan wisata Malioboro dan kawasan keraton Kesultanan sebagai bagian dari identitas kota (Kusumawati, 2018:70).
Pemerintah kota ini menetapkan zona dan pangkalan khusus andong, mengaitkannya erat dengan narasi Keraton Ngayogyakarta sebagai pusat budaya Jawa, serta melibatkan paguyuban kusir andong dalam pengelolaannya (Prasetyo, 2020:88).
Model Yogyakarta ini penting bagi Ternate karena menunjukkan bahwa pelestarian kereta kuda tradisional tidak memerlukan sumber daya sebesar kota-kota Eropa atau Amerika, melainkan cukup dengan keberpihakan kebijakan kota yang konsisten serta keterlibatan aktif komunitas kusir.
Dari berbagai contoh tersebut, tampak pola yang konsisten: kereta kuda tidak bertahan dengan sendirinya di tengah arus modernisasi, melainkan bertahan karena ada intervensi kebijakan kota yang sengaja memposisikannya sebagai aset budaya dan wisata, bukan sekadar alat transportasi yang harus bersaing head-to-head dengan kendaraan bermotor.
Upaya Pelestarian Demi Warisan Budaya
Persoalan pelestarian bendi sesungguhnya bukan hal baru dalam wacana warisan budaya perkotaan secara global. Hall (2016:112) dalam kajiannya tentang transportasi tradisional di kota-kota bersejarah Asia dan Eropa menyebutkan bahwa moda transportasi khas kerap kali diselamatkan bukan karena efisiensinya secara ekonomi, melainkan karena nilai simboliknya bagi identitas kota dan potensinya sebagai daya tarik wisata heritage.
Pengalaman internasional pun memperkuat urgensi ini. ICOMOS (2011) dalam prinsip-prinsip pelestarian warisan bergerak (moveable heritage) menegaskan bahwa objek-objek budaya yang melekat pada praktik hidup sehari-hari masyarakat.
Termasuk moda transportasi tradisional, memerlukan pendekatan pelestarian yang berbeda dari artefak statis, yakni dengan menjaga keberlangsungan praktiknya, bukan sekadar mengawetkannya sebagai pajangan museum.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar