Bendi Ternate: Punahnya Moda Transportasi Klasik Kota Rempah

Alih-alih meminggirkannya sebagai penghambat arus lalu lintas modern, bendi seharusnya dipandang sebagai aset eksklusif yang tidak dimiliki oleh kota-kota industri modern lainnya. Keprihatinan ini tidak boleh berhenti menjadi sekadar romantisme masa lalu atau keluhan di media sosial.
Diperlukan intervensi nyata dari Pemerintah Kota Ternate dan para pemangku kebijakan pariwisata. Menyelamatkan bendi tidak bisa hanya dengan janji manis atau membiarkan para kusir berjuang sendiri menantang pasar bebas yang timpang.
Perhatian Pemerintah
Pemerintah kota perlu menyusun regulasi konkret. Pertama, tetapkan jalur khusus wisata atau koridor ruang jalan bebas kendaraan bermotor pada hari-hari tertentu—misalnya konsep Car Free Day akhir pekan dari Taman Nukila menuju benteng-benteng bersejarah—di mana bendi diberi hak istimewa menjadi penguasa jalanan.
Kedua, integrasikan bendi ke dalam paket wisata resmi (heritage tour). Setiap wisatawan yang berkunjung ke Ternate harus difasilitasi atau disarankan menggunakan bendi untuk menjelajah kota, dengan tarif yang telah distandardisasi agar para kusir mendapatkan kepastian penghasilan yang layak.
Menyelamatkan bendi adalah tentang bagaimana kita menghargai warisan, merawat ingatan, dan menata masa depan pariwisata Ternate yang berkarakter. Kita tentu tidak ingin anak cucu kita kelak hanya bisa melihat bentuk bendi melalui foto usang di museum atau lembaran buku sejarah.
Sebelum lonceng terakhir bendi benar-benar berhenti berdenting di bawah kaki Gamalama, mari kita bergerak. Karena kota yang maju bukanlah kota yang mencampakkan masa lalunya, melainkan kota yang mampu membawa tradisinya berjalan beriringan dengan kemajuan zaman.
Perbandingan Pelestarian Bendi dan Sejenisnya di Eropa dan Asia
Di Eropa Barat, kota-kota seperti Wina (Austria) mempertahankan Fiaker—kereta kuda tradisional—sebagai ikon wisata di kawasan bersejarah seperti sekitar Katedral St. Stephen dan Istana Hofburg. Mueller (2014:58) mencatat bahwa pemerintah Kota Wina secara sengaja meregulasi keberadaan Fiaker melalui lisensi resmi, standar perawatan kuda.
Serta penetapan rute khusus, sehingga kereta kuda tidak dianggap sebagai gangguan lalu lintas melainkan bagian dari daya tarik kota warisan dunia UNESCO.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar