Nenek Membaca Angin, Negara Membaca Nikel

Roberto Duma Buladja

Ada juga kontradiksi lainnya. Nikel Halmahera dijual sebagai bahan baku kendaraan listrik global dengan jargon transisi energi. Namun, di kawasan industrinya ditopang oleh PLTU batu bara captive, yang mana melepas emisi dalam jumlah besar (Climate Rights International, 2024).

Dalam kontradiksi ini, warga Halmahera menanggung kerusakan dua kali lipat, yakni hutan, sungai dan lautnya rusak di tingkat lokal, kemudian mereka juga dihantam krisis iklim global, yang mana sumbernya turut diperparah dari tanah sendiri. Tak heran bila kesadaran ini juga yang memantik penolakan dari warga Halmahera di berbagai titik.

Penegakan hukumnya pun tampak timpang. Aparat misalnya menegaskan bahwa siapapun yang terbukti membakar lahan, termasuk saat membersihkan kebun, dapat diproses hukum (Radar Timur, 2026). Namun, pembukaan ribuan hektare hutan untuk tambang berlangsung legal atas izin negara.

Nahasnya, sebelas (11) warga adat Maba Sangaji justru dipenjara karena menggelar ritual untuk menjaga hutan dan sungainya (Mongabay Indonesia, 2025).

Kritik

Tulisan ini tentu tidak bermaksud untuk meromantisasi tradisi lokal, maupun menawarkan secara radikal untuk kembali ke masa lalu. Bahwa pengetahuan lokal perlu dipadukan dengan pendekatan data saintifik (misalnya data BMKG) untuk membaca fenomena ekologis saat ini. Juga di dalamnya, membaca secara kritis model pembangunan dan ketimpangan struktural. Inilah poinnya.

Sejalan dengan itu, dan sesegera mungkin, pemerintah harus membangun sumber air dan akses jalan kebun sebagai hak dasar warga. Sebab, petani dan nelayan kecil membutuhkan jaminan perlindungan dan pembiayaan yang sifatnya antisipatif sebelum kondisi semakin memburuk.

Yang tak kalah penting juga, konsesi-konsesi pertambangan di daerah aliran sungai, menyasar hutan adat dan wilayah rentan lainnya harus dievaluasi secara total dan ketat. Hak dan ruang kelola adat oleh komunitas atau masyarakat adat harus diakui. Dan, setiap perusak lingkungan harus diberi sanksi tegas.

Nasihat sang nenek agar kita hidup bersahabat dengan alam, pada akhirnya, adalah sebuah kritik sosial-ekologis. Utamanya sebuah catatan penting atas pembangunan yang kerap mengatasnamakan transisi energi hijau tetapi diproses secara kotor dan berdaya rusak.

Bahwa persahabatan dengan alam itu mustahil langgeng, selama Halmahera hanya dibaca oleh negara sebagai lumbung mineral nikel yang terus diektraksi tanpa ampun.(*)

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...