Nenek Membaca Angin, Negara Membaca Nikel

Ironisnya, Baharuddin tinggal di lingkar tambang emas. Ia hidup di atas kekayaan mineral yang besar, tetapi tak punya akses air dan jalan yang layak.
Bagi nelayan, tekanan itu kurang-lebih serupa datang dari arah laut. BMKG mencatat gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter di banyak perairan di Maluku Utara, dari Morotai hingga Obi (Spektroom.co.id, 2026). Kondisi ini tentu sangat berbahaya bagi nelayan dengan perahu kecil. Bahkan, akar persoalannya jauh lebih parah lagi.
Tahun lalu, nelayan tuna Ternate berkisah bahwa dulu mereka cukup melaut lima mil untuk mendapat lebih dari lima ekor tuna. Kini mereka hanya mendapat satu atau dua ekor setelah menempuh 30 mil (Wahyuni/Mongabay.co.id, 2025).
Di Teluk Weda, sedimentasi dari hulu akibat perluasan area pertambangan telah membuat air sungai dan laut keruh (Ekuatorial.com, 2026). Nelayan terpaksa melaut lebih jauh dengan ongkos bahan bakar yang makin tinggi, sementara hasil tangkapan justru turun.
Barangkali, sampai sejauh ini beberapa ekor elang itu masih beterbangan di atas pantai, sebagai sebuah tanda yang menunjukkan kapan musim ikan tiba. Tetapi, apa gunanya tanda itu jika ikan-ikan segar dan sehat sudah terusir jauh karena digempur lumpur tambang?
Bencana yang Diproduksi
Saat ini kita perlu jujur, bahwa El Niño adalah ancaman alam, tetapi bencana ekologis adalah produk kebijakan (politik). Dan, bencana yang jauh lebih mengerikan justru terjadi ketika ancaman alam itu bertemu kerentanan. Kerentanan inilah yang sebenarnya dipicu oleh model pembangunan (ekstraktif) yang sedang massif dilakukan saat ini.
Maluku Utara kini memiliki 134 izin pertambangan, 66 di antaranya IUP nikel. Pertumbuhan ekonomi kita sempat mencapai 32,09 persen, tertinggi di Indonesia. Namun, kemiskinan relatif stagnan di kisaran 6,5 persen, dan bahkan jumlah penduduk miskin justru bertambah (Sawal, 2026).
Riset CREA dan Celios (2024) mengingatkan bahwa kerusakan pada sektor pertanian dan perikanan jarang masuk dalam hitungan manfaat industri nikel. Maka, ketika kemarau datang, kerugian petani dan nelayan sesungguhnya adalah ongkos atau biaya tanggungan tersembunyi dari angka pertumbuhan yang mencengangkan itu.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar