Nenek Membaca Angin, Negara Membaca Nikel

Lapis kedua adalah krisis ekologis. Pudarnya tanda-tanda alam sebagaimana yang diceritakan oleh sang nenek itu dapat dibaca di dalam ketidakseimbangan sistem ekologis. Elang tentu membutuhkan hutan (rumah).
Karang yang tampak saat air surut itu tentu juga membutuhkan terumbu yang sehat. Sementara itu, Maluku Utara telah kehilangan 180.000 hektare hutan primer sepanjang 2001–2024 (Sawal, 2026).
Dalam konteks itu, yang lenyap bukan hanya pohon, tetapi juga tanda ‘persahabatan’ dalam jalinan sistem biologis-ekologis, bukan?
Lapis ketiga adalah krisis sosiologis. Pengetahuan sang nenek itu diwariskan lewat duduk bersama di rumah. Malam demi malam cerita itu dituturkan dan dirawat.
Dan kini, tradisi itu sulit bertahan karena kebun dan perkampungan terancam direlokasi demi perluasan kawasan industri ekstraktif. Ruang hidup yang makin menyempit itu tentu sekaligus berpotensi memutus narasi sosial-kultural tersebut.
Dampaknya Kini
Di Desa Dum-Dum, Kao Teluk, seorang petani bernama Baharuddin menangis melihat pala dan cokelat yang ia rawat hampir sepuluh tahun terancam mati (Radartimur.id, 2026).
Kebunnya tak punya sumber air. Untuk bertahan saja, Bahruddin dan para petani lainnya harus terpaksa membeli air seharga Rp. 150 ribu hingga Rp. 200 ribu per 500 liter, sementara jalan ke kebun belum bisa dilalui mobil.
Padahal, bagi petani, tanaman tahunan sudah seperti tabungan untuk anak-cucu. Jika pohon-pohon itu mati, yang hilang bukan satu musim panen saja, melainkan biaya sekolah anak dan masa depan keluarga.
Baca Halaman Selanjutnya..

Komentar