Nenek Membaca Angin, Negara Membaca Nikel

Roberto Duma Buladja

Maluku Utara bahkan merasakannya lebih dulu. BMKG Ternate dalam laporannya menyebut sejumlah wilayah Maluku Utara masuk musim kemarau lebih cepat dari perkiraan (Mansur, 2026).

Kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober, dan suhu maksimum bisa menyentuh 34 derajat Celsius. Ternate, Tidore, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Morotai, dan sebagian Halmahera Timur dipetakan sebagai wilayah rawan kekeringan dan kebakaran.

Prediksi itu akhirnya terbukti. Titik api kebakaran menyala di mana-mana. Di Halmahera Utara saja misalnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat Karhutla telah berdampak pada sekitar 508,6 hektare lahan di 16 dari 17 kecamatan, dengan 120 titik api di 69 desa dalam (Radartimur.id, 2026).

Di Halmahera Barat, kebakaran di Gunung Gamkonora (Halmaheranesia.com, 2026) membuat sejumlah pendaki harus dievakuasi.

Lapisan Krisis

Dibalik El Niño dan kemarau berkepanjangan ini, tanda atau ritme perubahan alam mulai bergeser. Bisa dibilang kacau. Kemarau nyatanya datang lebih awal dan pergi lebih lambat.

Angin barat tak kunjung berbalik, dan itu artinya Pariama tak lagi bisa diandalkan sebagai penanda musim untuk tanam. Pada kondisi ini, petani mulai kehilangan kompasnya.

Jauh daripada itu, saya melihat sekurang-kurangnya ada tiga lapis krisis saat ini. Lapis pertama adalah krisis iklim. El Niño tentu bukan hal baru, leluhur kita pasti pernah melewatinya.

Bedanya, El Niño hari ini datang di atas bumi yang sudah memanas akibat krisis iklim. Polanya lebih sulit ditebak, dan juga hantaman (dampaknya) yang jauh lebih keras.

Baca Halaman Selanjutnya..

Selanjutnya 1 2 3 4 5

Komentar

Loading...